
...***...
"Aku mohon, tenanglah." William mengusap pelan pundak kakaknya. Mereka kini tengah duduk di dalam kamar Rei. Setelah kejadian tadi, William segera membawa kakaknya masuk untuk menenangkannya.
Mereka terduduk dalam ruangan dimana Rei biasanya menghabiskan banyak waktunya. Elvina dan William berada di sofa bed yang ada. Sofa itu mengarah ke televisi di depan dengan meja kaca dihadapannya.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan berhenti begitu saja." Elvina menatap nanar ke arah gelas minum yang semula diberikan William padanya.
"Aku mengerti bagaimana kekecewaanmu dengan hasil yang mereka bawa. Tapi, mau bagaimana lagi? Rei benar-benar menghilang tanpa jejak. Berulang kali juga kita bahkan berusaha untuk menghubunginya, menemui teman-temannya untuk menemukan keberadaannya. Tapi hasilnya tetap nihil. Bahkan para polisi tadi berkata… kemungkinan terburuknya adalah Rei sudah meninggal." William menekankan akhir kalimatnya. Ia menunduk dengan raut wajah murung, setiap kali kalimat itu berdengung dalam benaknya, William merasakan rasa sakit yang luar biasa dalam hatinya. Ia tidak bisa membayangkan kalau sampai hal itu benar-benar terjadi.
"Andai saja waktu itu kita bergerak lebih cepat, semua ini pasti tidak akan terjadi," lirih Elvina.
William mendongak menatap kakaknya. Elvina kembali menggumamkan sesuatu, "Andai saja malam itu, aku bisa membebaskan diri kita dari kejaran pada evolver yang menculik kita. Mungkin sekarang, kita tidak akan seperti ini! Kita tidak akan kehilangan Rei dan kita tidak akan hilang selama berhari-hari dan melewatkan segala pencarian tentang Rei." Elvina kembali menangis. Perasaannya berkecamuk. Kesal dan sedih bercampur menjadi satu.
"Gara-gara dia! Gara-gara si tua bangka itu… kita jadi harus kehilangan jejak Rei hingga saat ini!"
...*...
Setelah kelulusannya, Elvina memutuskan untuk langsung terjun dalam dunia kerja karena keluarganya yang mendadak dilanda krisis ekonomi. Elvina berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan yang cukup besar dan dengan kemampuannya yang mumpuni, tidak butuh waktu lama untuknya mendapatkan jabatan yang tinggi. Satu fakta yang membuatnya mendapatkan jabatan tinggi hanyalah karena dia seorang evolver dengan kemampuan otak yang jenius dalam hal hitung menghitung.
Setelah berbulan-bulan lepas dari Joe, bukan berarti mereka benar-benar bebas. Karena Elvina kembali di pertemukan dengan Joe setelah dirinya resmi diterima di perusahaan tempatnya bekerja.
Sepulang kerja. Seperti biasanya, Elvina selalu berhenti di jalan tempat dimana biasanya mereka bertiga menghabiskan waktu.
Ia menghampiri tepi jalan, dan berdiri di belakang pagar besi yang menghadap langsung menuju laut lepas.
Aku selalu berharap, aku bisa bertemu lagi dengan Rei… dan menghabiskan waktu menatap lautan lepas di sini, bersamanya dan William. Seperti dulu. Tapi sepertinya… hal itu takkan pernah terwujud, batin Elvina.
Elvina menghela napas panjang. Ia mendongak menatap hamparan laut yang membentang dihadapannya. Matahari sore terlihat indah, apalagi ketika terus condong, dan tenggelam diantara laut yang memantulkan cahayanya.
"Entah kenapa… namun melihat matahari tenggelam seperti ini, selalu membuatku sedih."
...***...