Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 307 - Tidak berpengaruh



...***...


"Pipimu sudah lebih baik. Bahkan memarnya tidak terlihat sama sekali. Sepertinya ini memang ampuh untuk membuat lukamu lebih baik, dengan perawatan penuh kasih sayang dan rasa cinta, semuanya jadi lebih mudah sembuh." Lusia tersenyum melihat wajah Rei yang sudah kembali seperti semula.


Rei hanya tersenyum menanggapi ucapan Lusia. Memang benar lukanya pulih, namun karena ia adalah seorang evolver dengan kekuatan pemulihan tubuh yang lebih sempurna dari yang lainnya. Maka dari itu setiap luka yang menggores tubuhnya akan lebih cepat sembuh.


"Ya. Terima kasih karena sudah merawat lukaku dengan penuh cinta dan kasih sayang, berkat kau… aku jadi lebih cepat sembuh."


"Bukan masalah. Kalau begitu, aku akan memberikan satu obat terakhir untuk menyempurnakan penyembuhannya."


"Apa itu?" Rei penasaran.


"Pejamkan matamu," ujar Lusia. Rei memejamkan kedua matanya seperti apa yang ia minta. Tiba-tiba Lusia mendaratkan satu kecupan di pipinya.


Rei membuka matanya spontan dengan senyum yang merekah di wajahnya.


"Bagaimana? Apakah berhasil?" Lusia balas tersenyum.


"Sepertinya berhasil."


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Kalau begitu, bagaimana jika sekarang kita pergi makan siang bersama? Kau pasti belum makan 'kan?" Rei bangun dari duduknya.


"Baik, ayo!" Lusia ikut bangun dan menggenggam tangan Rei.


Mereka melangkah pergi meninggalkan halaman belakang sekolah yang tak terlalu banyak di kunjungi.


"Ayo makan di kantin! Aku tidak ingin Gloria dan Heru mengganggu kita," ajak Lusia.


"Boleh saja."



"Apakah kau tidak tahu kalau adikmu melakukan penelitian untuk melawan profesor?" tanya pria itu seraya menatap Joe lekat.


Joe tertunduk dihadapannya, tak ingin bertatap muka dengan lelaki yang menjadi tuannya itu.


"Aku tahu, dan aku sudah berusaha untuk menghentikannya. Aku bahkan sudah menghancurkan seluruh penelitiannya. Tapi aku tidak tahu kalau dia memulai semuanya dari awal dan menelitinya ulang. Aku sudah cukup lama tidak bertemu dengannya lagi semenjak pertengkaran kami, bahkan Derek melarikan diri dari rumah dengan tanpa membawa apa-apa, bahkan tanpa membawa uang atau pakaiannya." Jujur Joe pada mereka.


"Lantas kenapa dia bisa mendapatkan alat-alat itu dan serum Evolgesysv-03?"


"Aku sungguh tidak tahu mengenai hal ini tuan, mungkin saja ada orang yang telah membantunya selain aku."


"Membantunya selain kau? Memangnya siapa orang yang akan membantunya selain kau sebagai kakaknya?" Profesor menyipitkan matanya menatap Joe. Lelaki itu terdiam sejenak meninggalkan ruang hening sebelum akhirnya menjawab, "Nils."


Nama pria Eropa itu adalah yang pertama kali muncul ketika ia berusaha mencari jawaban atas pertanyaan dari profesor dan tuannya.


"Nils?"


Profesor menghela napas panjang saat potongan ingatan mengenai ucapan Joe beberapa saat yang lalu kembali terngiang dalam benaknya.


"Nils. Jadi dia juga terlibat dalam hal ini?" gumamnya pelan.


Profesor tahu betul dengan lelaki berkewarganegaraan Norwegia itu. Dia memang sejak awal dekat dengan Derek yang mana merupakan adik dari Joe yang menjadi anak emasnya.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau hal ini akan sampai terjadi. Aku pikir, aku sudah berhasil membuat Derek ikut dengan setiap perintahku. Padahal aku sudah melakukan berbagai cara untuk membuatnya tunduk. Tapi ternyata, semua itu bahkan tidak berpengaruh padanya sama sekali. Dia benar-benar memiliki kuasa diri yang begitu kuat, bahkan chip yang aku tanam dalam otaknya saja tidak berpengaruh," gumamnya.


...***...