Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 444 - Dicekik



...***...


A… apa itu tadi? Kenapa aku tiba-tiba terhempas seperti itu? Melinda membelalakkan mata. Ia terkejut bukan main saat mendapati tubuhnya terpental tanpa sebab hingga menabrak dinding di belakangnya.


Kau sudah berani menyentuh tuanku, dan itu tidak bisa dimaafkan, ujar Louis yang kini mendekat ke arah Melinda dengan iris mata yang sudah kembali seperti semula.


Louis? Rei masih berusaha berkomunikasi dengan Louis. Namun lelaki yang menjadi teman imajinernya itu tak menjawab, bahkan menghiraukan setiap kalimat yang terlontar dari pikirannya.


"Apakah itu adalah reaksi dari kemampuannya? Tapi, aku belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya," gumam Melinda pelan. Ia masih berusaha mencerna setiap kejadian yang baru ia alami.


Melinda menatap Rei yang masih terbaring dengan penampilan berantakan dan berusaha untuk membebaskan dirinya dari ikatan yang dibuatnya.


Melinda baru saja akan bangkit dan menghampiri Rei. Tapi lebih dulu Louis bergerak.


Pria itu mencekik Melinda hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.


"Akh—" Melinda terbelalak saat sesuatu mencengkram lehernya dengan begitu erat. Terlebih tidak ada siapapun di sana selain dirinya dan Rei yang terbaring.


Melinda berusaha memberontak, namun sia-sia.


Louis mengangkat tubuhnya hingga mengapung di udara dengan posisi tubuh yang masih merapat ke arah dinding.


Apa ini? Kenapa aku merasa seperti ada yang mencekikku? Aku tidak bisa membebaskan diri.


Melinda tak bisa bernapas. Ia terus memberontak dengan tangan yang berulangkali berusaha memukul-mukul udara.


Louis bergeming dengan tingkahnya. Ia semakin mengangkat tubuh Melinda.


Kau harus mendapatkan hukuman karena sudah berani menyentuh tuanku, ujar Louis.


Melinda terus memberontak hingga perlahan-lahan, ia mulai merasa lemas.


Louis mengerjap hingga irisnya berubah biru.


Tamatlah riwayatmu…


Louis!



"Kalian duluan saja ke kelas. Aku ingin menemui Rei di ruang UKS," ujar Lusia pada Gloria dan Heru. Mereka baru saja selesai menikmati waktu istirahat mereka di kantin.


"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi lebih dulu."


"Ya."


"Ayo pergi!" Gloria menarik tangan Heru dan beranjak meninggalkan Lusia seorang diri di koridor yang kini nampak sepi.


"Lepaskan tanganku! Jangan pegang-pegang. Nanti orang-orang salah paham," kata Heru yang segera menepis tangan Gloria.


"Kau itu terlalu berlebihan. Memangnya orang akan berpikir apa? Kita ini hanya teman sekelas, lagipula semua orang sudah tahu kita ini bersahabat."


"Tetap saja. Aku tidak nyaman."


"Ah, terserah!" ujar Gloria yang kemudian mempercepat langkahnya.


Lusia tersenyum memperhatikan kedua sahabatnya. "Padahal mereka adalah pasangan yang serasi, kenapa mereka tidak menyadarinya?"


Lusia menggelengkan kepalanya pelan. Sejurus kemudian ia melangkah meninggalkan tempatnya. Ia hendak pergi ke ruang UKS untuk menemui Rei dan memastikan dia sudah kembali berenergi.


Lokasi ruang UKS yang kebetulan tidak terlalu jauh dengan kantin, membuatnya hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk tiba di sana. Melewati beberapa lorong dan belokan, maka ia akan segera sampai.


Langkah Lusia terhenti saat Andrich secara tiba-tiba berdiri tepat dihadapannya.


Lusia mendongak saat ia nyaris menabrak lelaki jangkung yang wajahnya sebelas dua belas dengan kekasihnya itu.


"Maaf," kata Lusia yang kemudian melangkah ke samping untuk melewatinya. Tapi diluar dugaan, Andrich bergerak ke arah yang sama dengannya hingga membuat langkahnya kembali terhenti.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, bisa kita bicara empat mata?"


...***...