
...***...
Dorothy termangu dengan tatapan kosong. Sudah hampir setengah jam dirinya diam di sana tanpa berniat mengendarai mobilnya beranjak dari tempat parkir. Rasanya masih sangat sulit di percaya olehnya bahwa Lusia sudah meninggal. Dorothy masih sangat sulit menghadapi kenyataan pahit itu.
Dalam benaknya, dia terus bertanya-tanya bagaimana dia akan menghadapi Meredith setelah ini. Dorothy pasti akan semakin dihantui oleh rasa bersalah. Terlebih melihat Meredith yang begitu hancur hanya karena berpisah dengan Lusia saja sudah membuatnya merasa bersalah, dan sekarang dia bahkan dihadapkan dengan kenyataan yang lebih pahit. Dorothy tidak tahu bagaimana hancurnya wanita itu kalau sampai tahu bahwa putri mereka sudah tiada.
Tring!
Suara ponselnya berbunyi. Membuat fokus Dorothy seketika beralih. Wanita itu melirik ke arah dashboard dimana ponselnya itu berada. Menyadari adanya telepon masuk, Dorothy lantas meraih ponselnya dan melihat siapa yang berusaha menghubunginya. Begitu di lihat, ternyata telepon masuk dari rumah. Dorothy sempat mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengatur sirkulasi udaranya, dan menetralkan emosinya. Setelah di rasa lebih baik, Dorothy lalu segera menekan tombol yang ada. Mengangkat telepon masuk dari rumah.
"Halo?"
"Ma, kapan mama pulang?"
"Ada apa, sayang? Apakah kau lapar?"
"Iya…"
"Mama sedang di perjalanan, sebentar lagi mama pulang. Apakah kau ingin sesuatu? Biar mama belikan untukmu dan Derek."
"Mungkin menu favorit kami?"
"Okay, kalau begitu mama akan belikan makanan kesukaan kalian. Sampai jumpa di rumah."
"Sampai jumpa."
"Love you, darling."
"Love you too, mum.."
...*...
"Apa yang sebenarnya salah dengan penemuanku? Kenapa kita bisa sampai gagal seperti ini?" Miles terdiam dengan wajah kesal. Kejadian ini benar-benar membuatnya emosi. Bagaimana tidak? Akibat hal ini, dia jadi melihat kekurangan pada penemuannya. Serum Evolgesysv-01 ternyata lebih kuat dibandingkan dengan yang dia bayangkan. Bahkan saking kuatnya, semua anak yang menjadi kelinci percobaan mereka sampai meninggal hanya dalam proses pertama.
"Jangan menyerah, mungkin karena baru percobaan pertama, ramuannya belum terlalu sempurna. Kau bisa menciptakan serumnya ulang, kan? Dengan menggabungkan serum sebelumnya dan mengecek seberapa banyak dosis yang tepat, aku yakin kau pasti akan bisa mendapatkan hasil yang kita inginkan." Martin berusaha menghibur kembarannya itu.
"Mungkin apa yang kau katakan itu ada benarnya juga. Kalau begitu aku akan mengubah sedikit bahannya, dan mengatur kembali dosisnya."
"Itu baru yang namanya semangat!" Martin tersenyum simpul begitu mendengar ucapan Miles yang kini mulai bisa semangat lagi. Di tengah kesibukan mereka yang sedang frustasi dengan kejadian tadi, secara tiba-tiba Cato datang dan menyita perhatian mereka.
"Dimana kalian membawa tubuh evolver yang gagal?" tanyanya begitu tiba di sana.
"Kenapa kau menanyakan hal itu?"
"Aku ingin mengambil sampel DNA Lusia."
"Untuk apa kau membutuhkan itu?" tanya Miles yang tidak kalah bingungnya dengan Martin.
"Aku membutuhkan sampel DNA nya untuk membuat salinannya."
"Apa? Kau mau apa?" Martin dan Miles tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Cato baru saja mengucapkan sebuah ide yang lebih gila.
...*** ...