
...***...
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini kau selalu ada di sisiku dan senantiasa menemaniku…"
"…Terima kasih juga karena selama ini kau selalu melindungiku. Dan maaf karena selama ini aku sudah banyak menyusahkanmu."
"Jangan berkata seperti itu! Aku yang seharusnya berterima kasih karena berkat tuan, aku bisa memiliki banyak hal yang selama ini tidak aku miliki. Tuan juga memberikan banyak sekali hal berharga yang tidak akan pernah mungkin aku dapatkan selama hidupku." Louis kembali meneteskan air mata. Emosinya meluap ketika Rei mengatakan sesuatu yang membuat dadanya terasa begitu sesak.
"Aku menyayangimu… dan aku tidak ingin kau ikut musnah bersama denganku." Rei mengambil napas dalam-dalam. "Louis… dengan ini, aku membebaskanmu. Hiduplah seperti makhluk hidup lainnya."
"A-apa?" Louis membelalakkan mata. Ketika kalimat itu terucap dari mulutnya, bersamaan dengan itu juga cahaya bersinar dari tubuh Louis.
Louis tidak percaya dengan apa yang baru saja Rei katakan. Kalimat yang dalam sekejap menghapus keterkaitannya dengan Rei.
Rei tersenyum simpul. Kini dirinya benar-benar sudah tidak bisa melihat Louis lagi. Lelaki itu sudah tak memiliki hubungan yang membuat mereka bisa saling bergantung satu sama lain lagi.
Rei sudah melepaskan Louis, dan menjadikannya sebagai makhluk bebas yang hidupnya hampir mirip seperti roh yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang dengan kemampuan tertentu.
"Tuan! Tidak. Kenapa kau melakukan ini…" Louis mencengkram erat pakaian yang dikenakan Rei. Tapi Rei tidak bisa merasakan apa-apa sama sekali.
"Louis…, aku tahu kau masih di sini dan bisa mendengarkan ku. Permohonan terakhirku…, lupakan aku, dan hiduplah… shhh…" Rei mengerang menahan sakit.
"Tuan…" Louis semakin cemas dengan kondisinya. Terlebih wajah Rei yang semakin pucat membuat Louis semakin tidak tenang.
"…Hiduplah, dengan bebas…" lirih Rei.
Louis membelalakkan mata begitu ia melihat lelaki itu terkulai bersamaan dengan hembusan napas terakhirnya.
"Tuan! Tidak! Jangan tinggalkan aku sendiri! Tuan…"
Louis terisak. Rei benar-benar telah tiada, dan dirinya benar-benar seorang diri di sana tanpa ada seorangpun yang sadar atau mengetahui akan dirinya.
Louis tercekat. Ia diam dan menatap tubuh Rei dengan wajah tak percaya.
Tubuh lelaki itu berubah menjadi abu. Namun tak lama abu itu menyerap ke dalam tanah dan tanaman rambat mulai bermunculan dari dalam sana dengan kilauan dari daun-daunnya.
"T-tuan…" Louis sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Serum Evolgesysv-01 itu benar-benar telah mengubah segalanya. Menghancurkan segalanya, termasuk Rei dan kehidupannya.
Sekali lagi, Louis hanya bisa duduk sambil terisak di bawah sana.
...*...
Hutan, saat ini.
2020
Rei tersentak. Ia membuka kedua matanya dengan napas tak beraturan. Keringat mengucur membasahi seluruh tubuhnya, dan jantungnya berdebar tak karuan.
Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Kenangan utuh yang sungguh membuat hatinya sakit.
Rei terdiam. Otaknya berusaha mencerna setiap bayangan yang dilihatnya. Sementara itu, tubuhnya berusaha mengatur napas yang tak beraturan.
Di sisinya, Louis yang melihat Rei sudah melihat semuanya dan tampak tidak kuat lantas segera bergerak.
Louis segera memindahkan mereka ke tempat lain, berharap dengan begitu Rei bisa menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
...***...