
...***...
"Tuan, aku baru saja mendapatkan kabar dari Philip. Dia memberitahuku kalau Derek dan wanita itu ada di London." Ron memberi informasi penting pada tuannya.
"Apa? Mereka sekarang di London?"
"Benar, tuan."
"Tidak aku sangka mereka bisa dengan mudahnya pergi dan melarikan diri dari satu negara ke negara lain."
"Apa yang akan kita lakukan, tuan? Perlukah aku menyiapkan pesawat agar kita bisa segera pergi ke London?"
"Kau siapkan pesawat. Tapi, sampai di sini saja tugas kalian."
"Maksud, tuan?" Ron mendongak menatap tuannya dengan wajah terkejut.
"Biar aku sendiri yang pergi ke London. Kalian tidak perlu ikut. Kembalilah ke markas, dan bantu profesor di sana."
"Baiklah tuan, aku akan segera memerintahkan anak buahku untuk bersiap kembali ke markas."
"Kau boleh pergi."
Ron membungkuk sebelum akhirnya berbalik dan hilang di balik pintu keluar.
...*...
Mobil yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang depan sekolah.
"Terima kasih karena sudah mengantarkan aku sampai ke sekolah, kak." William membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar.
"Bukan masalah, lagipula walaupun aku dan El baru berpacaran, tapi aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri." Leon tersenyum ke arah lelaki yang sudah di anggapnya adik itu, sementara Elvina menyikut pelan perut Leon dengan wajah merona. Ia malu mendengar kalimat itu terlontar dari mulutnya, terlebih di depan adiknya.
"Haha, tidak apa-apa anggap saja aku adikmu. Lagipula aku juga memang berharap kalian berhubungan sampai menikah." William tersenyum.
"William!" Elvina melotot mendengar ucapan adiknya. Ia terkejut, tak percaya adiknya akan bicara seperti itu.
"Haha, doakan saja." Leon membalas.
"Aku akan selalu mendukung hubungan kalian."
"Baiklah kalau begitu aku pamit."
"Belajar yang rajin, dan jangan lupa untuk makan siang!" teriak Elvina mengingatkan.
"Ya, sampai jumpa di rumah." William melambaikan tangannya ke arah Elvina yang duduk di samping kemudi bersama Leon di sisinya.
Elvina menghela napas. Sementara Leon beralih pandang padanya setelah melambaikan tangan pada calon adik iparnya.
"Kenapa kau bicara seperti itu padanya?"
"Maksudmu?"
"Argh, sudahlah lupakan saja. Ayo pergi ke kantor. Aku tidak ingin terlambat." Elvina mengalihkan pembicaraan. Leon mengedikkan tak acuh, berusaha menghiraukan ucapan Elvina yang tak jelas barusan.
Leon melajukan mobilnya pergi dari sana. "Memangnya kenapa kalau kita telat? Lagipula pacarmu ini 'kan bosnya." Leon tersenyum ke arahnya.
"Tidak boleh! Tidak ada kata terlambat untuk masuk kerja dalam kamusku, jadi ayo jalan. Kita harus datang tepat waktu!"
"Baiklah, kalau kau bilang begitu. Aku akan mengikuti perintah dari nyonya Delacroix." Leon menggodanya. Elvina melongok mendengar ucapan lelaki yang jadi kekasihnya itu.
"Kita belum menikah!" ujarnya.
"Lantas, memangnya kenapa? Apakah ada larangan untuk menyebutmu seperti itu?"
"Orang-orang bisa salah paham kalau mereka dengar!"
"Hanya ada kita berdua di sini. Oh, atau jangan-jangan ucapanmu barusan adalah semacam kode? Agar aku cepat-cepat melamarmu, dan kau bisa benar-benar jadi nyonya Delacroix? Apakah secinta itu, kau padaku?"
"Leon, hentikan!" Wajah Elvina merona.
"Apakah ucapanku benar?"
"Argh, fokus saja menyetir agar kita cepat-cepat tiba di kantor."
"Baiklah, aku akan diam." Leon beralih fokus pada jalanan yang tengah di tempuhnya.
Selanjutnya, sepanjang perjalanan banyak hal yang di bahas oleh mereka, tak jarang Leon menggodanya.
...***...