
...***...
Jadi, mereka satu kelas dengan gadis tadi? Itu artinya mereka juga ada hubungannya dengan hidupku di masa lalu, 'kan? Rei terdiam. Setelah bertemu dengan Wika di depan kelasnya tadi, Rei lagi-lagi bertemu dengan sekelompok laki-laki yang beberapa hari terakhir terus saja bertemu dengannya.
Sekelompok laki-laki yang setiap kalimatnya terus menancap dalam ingatannya.
Rei mengalihkan pandangannya keluar jendela. Perpustakaan tempatnya saat ini berada terletak di bagian taman lain, taman itu berada tepat berdekatan dengan tembok beton yang memisahkan dua bagiannya.
Ia terdiam membiarkan semilir angin menerpa wajah tampannya lewat jendela yang sengaja di buka.
...*...
Lusia, Gloria, dan Heru melangkah keluar dari dalam kafetaria begitu mereka selesai menikmati makan siangnya.
"Perutku kenyang, tapi aku ingin makanan manis sebagai hidangan penutup." Heru mengusap perutnya yang sudah terisi penuh dengan makanan.
"Sepertinya aku harus pergi ke toilet, kalian pergilah lebih dulu. Jangan membuat Rei menunggu, kasihan dia sudah menunggu kita sejak tadi." Gloria pamit, gadis itu segera berlari menuju toilet perempuan.
"Baiklah, kalau sudah selesai segera menyusul!" teriak Lusia.
"Iya."
"Sepertinya sekarang hanya tinggal kita berdua." Lusia menoleh pada Heru.
"Tidak, tapi kau sendiri. Aku ingin pergi ke kantin dulu dan membeli beberapa camilan manis, jadi kau pergi lebih dulu." Heru beranjak meninggalkannya.
"Tunggu, apa? Hey! Kau bercanda? Kau menyuruhku untuk pergi lebih dulu?"
Lusia mendengus kesal. Ia tidak tahu kenapa, dirinya merasa kalau Heru dan Gloria seakan sengaja membuat dirinya sendiri yang harus pergi menemui Rei di perpustakaan.
Lusia terdiam sejenak, ia tampak bimbang harus bagaimana. Ia menoleh secara bergantian ke arah dimana Heru dan Gloria menghilang.
"Apakah aku temui Gloria saja dan menemaninya hingga keluar dari toilet? Tapi kalau aku menemaninya dan menunggu sampai dia keluar, bagaimana dengan Rei? Dia juga sudah menunggu terlalu lama." Lusia memonolog.
Fokusnya beralih pada jam yang melingkar pada pergelangan tangannya.
"Kalau aku menunggu Gloria, akan sangat membuang-buang waktu. Apalagi sisa waktu istirahat yang aku miliki hanya tinggal sedikit lagi, dan hanya akan cukup untuk mencari bahan untuk tugas kami. Ah, sudahlah sepertinya memang lebih baik aku menunggu mereka berdua di perpustakaan. Sekarang aku akan temui Rei dulu dan membantunya mencari bahan untuk tugas." Lusia berlalu meninggalkan tempatnya berdiri.
Ia melangkah menyusuri koridor yang tepat mengarah ke perpustakaan.
Di sisi lain, Lusia sama sekali tidak menyadari kalau sejak tadi seseorang terus memperhatikannya dari kejauhan.
Orang itu berdiri di sudut koridor sepi yang tampak gelap tidak tersentuh cahaya matahari sedikitpun.
"Itu memang dia, aku tidak salah. Sekarang yang harus aku lakukan hanyalah mencari cara agar bisa menangkapnya di saat yang tepat," bisiknya pelan.
Sosok itu berbalik dan menghilang diantara kegelapan yang menyelimuti sekelilingnya.
...*...
Lusia terus melanjutkan langkahnya hingga tiba di ruang perpustakaan. Sebelum masuk, ia menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu. Kepalanya mendongak menatap papan di atas pintu yang bertuliskan kata 'perpustakaan.'
Apakah aku harus masuk sekarang? batinnya.
...***...