
...***...
"Memang begitu rencananya."
"Aku akan mencoba menghubungi Ethan dan memintanya untuk melacak keberadaan kita. Dengan begitu kita bisa tahu kemana arah kapal ini pergi."
"Ide bagus," ujar Aland setuju.
Lucy mulai disibukkan berkutat dengan thorny bites miliknya, berusaha menghubungi Ethan dan memintanya untuk terus melacak keberadaan mereka. Dengan begitu, mereka bisa tahu dimana mereka berada.
"Eth? Kau bisa mendengar ku?"
"Ya, aku bisa mendengarmu dengan sangat jelas, Lou."
"Bagus. Ternyata kita masih terhubung. Kau bisa terus memantau keberadaan kami kan?"
"Tentu saja, aku bisa," balas Ethan di seberang sana.
"Syukurlah kalau—"
Brakk!
Ucapan Lucy mendadak terpotong saat secara tiba-tiba barang-barang yang ada di dalam sana berjatuhan dari atas rak dan meja. Kapal terguncang cukup hebat sampai membuat mereka berlima juga ikut bergerak mengikuti arah miringnya kapal.
"Ada apa ini?" William kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Terjadi guncangan, sepertinya ada sesuatu yang terjadi di luar." Aland berpegangan pada benda yang sekiranya bisa jadi penahan mereka.
Brukk!
Lucy, Elvina dan Rei menghantam dinding. Bersamaan dengan itu, barang-barang yang tadi berjatuhan itu bergerak menuju arah mereka.
"Arghh!" Lucy meringis. Ia berusaha keras melindungi kepalanya.
Elvina yang melihat keadaan tidak bagus lalu menggunakan kemampuannya guna melindungi Rei dan Lucy.
"Sial. Apa yang terjadi sebenarnya?" Elvina mendongak. Tak beberapa lama kemudian, kapal kembali bergerak dengan stabil.
"Kalian semua baik-baik saja?" tanya Rei memastikan.
"Kepalaku sedikit pusing," balas William yang kini berpegangan pada rak yang entah kenapa sejak tadi diam di tempatnya. Sepertinya rak itu memang sengaja di desain menempel pada dinding kapal agar ketika terjadi guncangan tidak terhempas hingga akhirnya rusak. Begitu juga dengan meja yang ada.
"Lou, kau baik-baik saja?" Aland menghampiri Lucy.
"Yeah, aku baik-baik saja." Lucy bangkit dengan bantuan Aland.
Sementara Rei berusaha memastikan keadaan Lucy, William, dan Aland, beda halnya dengan Elvina yang kini perhatiannya justru tertuju pada satu titik.
Elvina berjalan secara perlahan menghampiri dinding dimana jendela kecil berbentuk bulat itu berada. Ia mendekat. Ada sesuatu yang terlihat tidak asing dalam benaknya.
"Teman-teman…" Elvina berucap lirih. Perhatian semua orang langsung tertuju ke arahnya.
"Ada apa, El?" Rei mendekat ke arah Elvina dengan memapah William.
"Lihat!" Elvina menatap keempatnya dengan posisi tangan menunjuk ke arah luar jendela. Refleks semua orang menatap ke arah yang di tunjuk oleh Elvina barusan.
"Ada apa?" Aland dan Lucy mendekat ke arah jendela. Begitu juga dengan Rei dan William.
Kelimanya menatap keluar jendela, dan begitu melihat, mereka semua bisa dengan sangat jelas menyadari adanya sebuah kabut yang cukup tebal bergerak dari arah depan kapal.
Kabut itu menutup seluruh permukaan air laut.
"Kabut?" gumam Rei.
"Kenapa ada kabut setebal ini? Apakah jangan-jangan pagi hampir tiba?" Lucy berkomentar.
"Aku tidak tahu, tapi entah kenapa ini terasa aneh," balas Aland.
"K-kabut ini…" William mendadak teringat akan sesuatu. Ia menoleh pada Elvina. Beradu tatap dengan wanita yang menjadi kakaknya itu.
"Yeah, ini seperti yang kau pikirkan."
"What do you mean?" Lucy tidak mengerti. Dia dan Aland berusaha meminta penjelasan atas ucapannya barusan.
...***...