
...***...
"Di sini terlalu berbahaya. Bagaimana kalau ada orang yang masuk dan memergoki kita?" gumam Melinda dengan wajah merah.
"Tidak akan. Lagipula tertutup tirai."
"Tapi…"
"Kau ini sebenarnya berniat untuk tanggung jawab atau tidak?" Andrich tersenyum meremehkan.
"Tentu saja!"
"Kalau begitu, buktikan."
Melinda beranjak, naik ke atas pangkuan Andrich. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher lelaki itu dengan kepala tertunduk beradu tatap sejenak dengannya.
S… sial, belum apa-apa bagian bawahku sudah berkedut, batinnya. Entah ada apa dengannya, tapi Melinda merasa tubuhnya menampakkan respon aneh saat ia kembali bersentuhan dengan Andrich.
"Kenapa kau diam saja?" Andrich kembali berucap dengan seringai di wajahnya.
"Cerewet!" Melinda memejamkan matanya. Sialnya ekspresi wajahnya benar-benar tidak dapat di kontrolnya.
Melinda mendekatkan wajahnya, memulai dengan sebuah kecupan dan *******. Bermain dengan lidah dan mulutnya.
Andrich merespon setiap gerakannya. Sementara itu, tangannya bergerak meremas gumpalan empuk yang berada dalam pangkuannya.
"Shh…" Melinda mendesah nikmat. Setiap sentuhan Andrich benar-benar berhasil membuatnya terbuai, padahal baru semalam dirinya bercinta penuh gairah dengan lelaki itu. Tapi, ia menginginkan sensasi luar biasa saat Andrich menggagahinya dengan begitu perkasa.
Tangan pria itu bergerak menyelinap masuk lewat seragam putihnya. Bermain dengan kedua gunungnya yang berbalutkan bra.
"Ngh… ahh…" Melinda mendesah tanpa sadar. Ia menutupi mulutnya spontan dengan kedua tangan.
Andrich tersenyum miring.
"Jangan keras-keras, bagaimana kalau ada yang mendengar kau mendesah?" gumamnya yang terus mempermainkan ujungnya.
Melinda menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan yang masih berusaha keras menahan desahannya.
Andrich melepaskan kancing seragamnya. Dengan bibirnya, ia menjamah setiap inchi tubuhnya. Sesekali ia menggigit, dan menjilat kulit mulusnya.
Libidonya semakin meningkat.
Wanita itu menggigit keras tangannya dan pasrah dengan perlakuan Andrich yang memang benar-benar ia inginkan.
"Sepertinya kau sudah tidak sabar untuk aku masuki." Andrich mendongak menatapnya. Melinda merapatkan kakinya berusaha menahan tangan Andrich yang berubah menerobos masuk. Usahanya gagal.
Andrich bisa dengan mudah menarik celana pendek hitam yang ia kenakan.
Pria itu menggunakan jarinya, menyelinap masuk di antara kakinya.
"Kau sudah basah." Andrich bergumam, mengusap miliknya yang basah.
Melinda berusaha keras menahan desahnya, sementara sebelah tangannya menahan tangan Andrich yang kedua besarnya berusaha masuk.
Andrich memaju mundurkan tangannya yang basah. Sementara Melinda hanya pasrah mengikuti gerakannya tangannya yang membuat Melinda menggelinjang nikmat.
Setelah cukup lama, ia kembali keluar.
Andrich mengeluarkan tangannya yang basah. Ia menjilat jarinya.
"Sepertinya kau benar-benar menginginkan milikku."
Dia terlalu cerewet, cepat masukkan bodoh! pekik Melinda kesal. Ia menutupi wajahnya.
Andrich beralih merogoh sesuatu dari dalam saku celana panjangnya. Sebuah benda berbungkus plastik kecil berbentuk persegi.
Melinda sedikit mengintip. Andrich terlihat sedang berusaha membuka benda itu dengan giginya.
Setelah terbuka, Andrich bergerak membawa benda lain.
Tangannya terulur. Alih-alih meraih resleting celananya, ia malah membawa sebuah gelas berisi air putih yang sejak tadi berada di atas nakes dekat ranjang tidurnya.
Ia menumpahkan isi benda yang dibawanya ke dalam air. Melarutkannya sebelum kemudian meminumnya hingga habis.
Andrich bangun dari duduknya.
"Okay, permainan selesai," katanya yang dalam sekejap membuat Melinda menurunkan lengannya.
Ia beradu tatap dengan Andrich yang berdiri dihadapannya.
...***...