Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 454 - Sadarlah…



...***...


Brukk!


William terhempas di tanah dengan keadaan tidak berdaya. Joe berjalan menghampirinya masih dengan jarum suntik yang kini digenggamnya.


Setelah berulangkali melawan, hasilnya tetap saja Will kalah. Entah apa yang membuat Joe terasa begitu kuat sampai-sampai mampu menangkis serangannya dan membaca pergerakannya dengan mudah.


"Sekarang kau akan ikut denganku." Joe mencengkeram erat jarum yang digenggamnya.


"T… tidak! Jangan!" William berusaha menjauh, tapi usahanya gagal karena Joe lebih dulu bergerak dan…



Jleb!


Jarum suntiknya menancap di leher William dengan sempurna. Joe menekan ujungnya hingga membuat seluruh cairan di dalamnya menerobos masuk ke dalam tubuhnya.


William mulai merasa lemas. Pandangannya kabur, bersamaan dengan itu kesadarannya berkurang sedikit demi sedikit sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.


Brukk!


Tubuhnya terkulai lemas dengan kedua mata yang terpejam.


Joe menarik jarumnya. Ia berdiri tegak sambil mengatur napasnya yang tersengal akibat pertarungannya dengan William.


Seringai jahat terukir diwajahnya.


"Sekarang, ikut aku."


...*...


Andrich menghampiri Rei yang sudah terkapar tak berdaya karena seluruh energinya sudah ia serap habis.


Ia menghampiri Rei, hendak membawanya pergi seperti yang telah diperintahkan.


"Waktunya kau ikut denganku. Bergabung dengan kekasihmu," gumam Andrich sambil terus melangkah.


Brakk!


Pintu kayu tua di dinding itu terhempas hingga lepas dari engselnya.


Fokus Andrich langsung tertuju pada sosok pria albino yang datang dengan membawa Lucy di pundaknya dan menyeret Aland di tangan lainnya.


"Tuan!" teriak Louis dengan mata terbelalak.


Ia segera menurunkan tubuh Lucy dan menjauhkannya bersama Aland ke sisi yang lebih aman.


Ia bergegas menghampiri Andrich dan menahannya untuk membawa pergi tuannya yang sudah tak sadarkan diri.


Bugh!


Dalam satu kali serangan, tubuh Andrich langsung terhempas hingga menghantam dinding.


Kepulan asap tercipta saat tubuhnya menghantam dinding dan menciptakan reruntuhan akibat dinding yang hancur membentur tubuhnya.


"Tuan, sadarlah!" Louis mengangkat tubuh tuannya. Menepuk-nepuk wajahnya pelan guna membangunkannya. Tapi Rei sama sekali tak merespon setiap tindakannya.


"Tuan!" Louis mulai panik. Ia segera mengecek apa yang terjadi pada Rei dan memastikan denyut jantungnya masih bekerja.


Di sisi lain, Andrich yang terluka bangun dengan tertatih.


"Arghh…" Ia mengerang kesakitan.


Sial, hanya satu serangan darinya. Tapi kenapa bisa langsung menguras tenagaku? Andrich menatap lekat Louis yang menghiraukannya.


Lebih baik aku pergi. Keadaanku tidak memungkinkan untuk melawannya. Setidaknya walaupun aku gagal menangkap Rei, tapi aku berhasil menangkap Lusia.


Andrich beranjak. Ia menghempaskan tangannya, memerintahkan semua anak buahnya untuk menghilangkan perisai yang dibuatnya.


Detik berikutnya, Andrich mengubah dirinya menjadi asap sebelum kemudian beranjak meninggalkan Louis, Rei, Lucy, dan Aland yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Syukurlah tuan masih hidup," gumam Louis sambil tersenyum simpul melihat tuannya masih memiliki detak jantung walaupun tidak terlalu stabil.


Ia segera merebahkan tubuh Rei di atas tanah berumput dengan posisi terlentang.


Louis duduk disampingnya. Kedua tangannya mulai terangkat di atas tubuh Rei.


Louis memfokuskan seluruh energinya pada satu titik. Memusatkan energinya pada kedua tangan hingga membuat kedua telapak tangannya bercahaya.


Ia mulai menyalurkan seluruh energinya pada Rei. Memberikan sedikit energi agar pria itu sadar dari pingsannya.


Sadarlah, tuan…


...***...