
...***...
Tukk!
Lucy menaruh mug dalam genggamannya ke atas meja. Rei mendongak menatap sosoknya yang baru saja tiba di ruang makan.
"Morning, Lou," sapa Aland yang baru saja selesai mencuci wajahnya.
"Morning," kata Lucy dengan wajah lesu tidak seperti biasanya.
"Ada apa denganmu?" Aland duduk di samping Rei sambil meraih beberapa roti dan selai.
Lucy beralih tatap pada Rei dan Aland.
"Semalam aku bermimpi aneh. Aku bertemu dengan Elvina dan William. Selain itu, aku juga bertemu dengan kalian. Kita duduk di padang rumput sambil membuat rencana agar bisa menemukan keberadaan Elvina dan William. Lalu yang menjelaskan rencananya adalah pria albino yang namanya adalah…"
"Kau juga bermimpi itu?!" Aland menyela.
"Jadi kau juga memimpikan hal yang sama denganku?" Lucy membulatkan mata. Terkejut dengan pengakuan Aland barusan.
"Ya. Aku juga bermimpi seperti itu."
"Ini aneh, bagaimana kita bisa bermimpi hal yang sama?" Lucy terdiam berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Aku sama kagetnya denganmu."
"Kau sendiri, Rei? Bagaimana denganmu? Apakah kau bermimpi yang sama dengan kami?" tanya Lucy pada Rei yang tampak biasa saja.
"Itu mimpi yang aku ciptakan."
"Apa?!" Lucy dan Aland tersentak.
"Aku yang sudah membawa kalian ke Dreaworld agar bisa dengan mudah kita menjalankan rencana kita," jelas Rei.
"Ja… jadi, mimpi itu…"
"Mimpi itu bagian dari kekuatanku," gumam Rei.
"Wow…" Lucy dan Aland speechless mendengarnya. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau Rei memiliki begitu banyak kekuatan yang mampu membuat mereka tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan keterkejutan mereka.
"Seperti yang sudah Louis jelaskan dalam mimpi, kita harus bergerak secepatnya." Rei menaruh gelasnya ke atas meja.
"Jadi, kita akan benar-benar mengikuti apa yang dijelaskan dalam mimpi?"
"Hanya itu satu-satunya cara supaya kita bisa menemukan Elvina dan William secepatnya."
"Baiklah, kalau begitu kita selesaikan sarapan dulu. Akan kuhubungi Ethan untuk membantu kita lagi."
"Baiklah."
Helsinki, Finlandia.
04:52 dini hari.
Pricilla beranjak bangun saat ia secara mendadak merasa haus.
Ia beringsut turun. Berjalan menyusuri tangga supaya bisa tiba di lantai satu dimana dapur berada.
Tiba di dapur, Pricilla segera mengisi gelas kosong dalam genggamannya dengan air lalu meneguknya hingga habis.
"Rasanya benar-benar melegakan," gumamnya pelan setelah kesadarannya pulih begitu ia menegak seluruh isi minumannya.
Perhatian Pricilla beralih pada cahaya yang dilihatnya berasal dari ruang laboratorium pribadi milik profesor.
Di ruangan itu, biasanya Derek meminta izin untuk mengerjakan semua penelitiannya.
Apakah Derek belum tidur? pikirnya.
Pricilla menoleh ke arah jam yang tergantung di dinding. Jam sudah menunjukkan pukul empat lebih lima puluh dua dini hari waktu Finlandia.
Nyaris pukul lima pagi, dan sepertinya pria itu terjaga sepanjang malam.
Tukk!
Pricilla menaruh gelas dalam genggamannya lalu berjalan menuju arah cahaya yang dilihatnya.
Pricilla mendorong pintu laboratorium yang terbuka sedikit.
"Derek," panggilnya hingga membuat pria itu beralih dari kertas penelitiannya.
"Pricilla, kau sudah bangun?"
"Tidak. Aku tidak sengaja terbangun karena haus." Pricilla menghampiri Derek.
"Begitu rupanya, pantas saja aku merasa janggal. Tidak biasanya kau bangun sepagi ini."
"Kau tidak tidur sepanjang malam?"
"Ya, begitulah… aku harus menyelesaikan penelitianku."
Pricilla menghela napas panjang. Ia menutup buku penelitian Derek secara paksa.
Derek sampai kembali berpaling.
...***...