Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 565 - Menuju titik nol



...***...


Melinda membatu. Andrich terus menjilat tangannya, dan sesekali lelaki itu melirik ke arahnya dengan tatapan yang bisa diartikan dengan sangat jelas olehnya. Lelaki itu, mulai merasakan kembali efek samping obatnya yang mulai hilang.


"Biar aku urus ini!" Melinda menarik tangannya paksa, melepaskan borgol itu dengan kunci sejak berhasil ia temukan. Setelah terbuka, bergegas Melinda memasangkan bagian lain borgolnya pada bagian kepala ranjang guna memastikan Andrich tidak bisa lari.


"Tetap di sini!" katanya sambil beranjak bangun dari tempat duduknya. Melinda bangkit dan segera mencari kotak obat untuk membalut lukanya. Tapi sebelum itu, dia harus membersihkan sisa darah yang menetes hampir mengenai sikunya.


Ia pergi ke kamar mandi tak jauh dari kamar mereka.


Aku rasa efek dari obat penenangnya mulai menghilang. Dari tatapannya tadi, aku bisa melihat dengan jelas kalau responnya berbeda, pikir Melinda. Setelah membersihkan sisa darah yang menetes. Ia hendak kembali ke kamar dan mengobati lukanya. Namun baru saja dia membuka pintu, Andrich tiba-tiba saja berdiri di sana.


Melinda tersentak kaget oleh kehadirannya yang tiba-tiba itu.


"A-Andrich…" Melinda membatu. Jantungnya nyaris saja copot begitu lelaki itu tiba-tiba berdiri di depan pintu.


Melinda melirik ke arah ranjang. Seharusnya Andrich tertahan di sana. Bahkan seharusnya tangannya di borgol. Tapi yang bisa Melinda lihat hanyalah borgol yang lepas dari tangan lelaki itu dan masih dalam keadaan sebelah bagian terikat pada kepala ranjang.


Bagaimana dia bisa lolos? pikir Melinda.


Belum sempat otaknya berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul di benaknya. Andrich tanpa aba-aba menarik tubuhnya mendekat.


Sebelah tangannya memegangi tengkuknya, dan tanpa aba-aba mendaratkan ciuman di bibirnya.


Melinda sempat kaget. Tapi ia berusaha untuk membiasakan diri dengan setiap tindakan Andrich yang mendadak seperti ini.


Andrich memperdalam ciumannya. Ia lantas bergerak, membawa Melinda menuju ranjang di sana.


Alih-alih setuju, Andrich justru mendekatkan wajahnya ke arah telinga Melinda dan berbisik tepat di telinganya.


"Tidak perlu. Biar aku yang mengobatimu," bisiknya.


Andrich mengangkat tubuhnya spontan, dan membopong Melinda ke arah ranjang. Membaringkan tubuh wanita itu di atas sana dengan Andrich berada di posisi tepat di atasnya.



...*...


Rei terdiam. Ia menoleh ke arah pintu masuk setelah dia merasa kalau ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan mereka dari arah balik pintu.


Aku merasa ada seseorang di sana. Tapi siapa? Apakah jangan-jangan ada penjaga yang tahu kalau kita menyusup masuk?


Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ada dalam pikirannya. Terlalu banyak suara hati yang bisa aku dengar.


Rai terus memperhatikan pintu yang masih dalam keadaan tertutup dan pintunya tertahan oleh barang-barang yang tadi berjatuhan dari tempatnya.


"Kalau kita sudah melewati kabut itu, bukankah itu artinya kita semakin dekat ke pulau itu?" gumam William.


"Ya, aku rasa begitu. Dan itu artinya, kita juga semakin dekat menuju titik nol dimana semuanya berawal," balas Elvina.


"Aku akan coba menghubungi Ethan dan memintanya untuk melacak lokasi pulau terdekat dari arah kapal yang kita tumpangi berada." Lucy mulai sibuk mengutak-atik thorny bites miliknya.


...***...