
...***...
"Mulai Minggu depan, kau akan kembali ke sekolah lagi." Isyana berucap memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kebersamaan mereka di meja makan.
Rei mendongak, beralih dari makanannya. "Sekolah?"
"Ya. Mama sudah mulai mengurusi semuanya agar kau bisa mulai masuk lagi Minggu depan. Selain itu, besok kita akan pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaanmu agar mama dan papa tahu seberapa parah amnesiamu, dan siapa tahu kita juga bisa menemukan penyebab amnesia yang kau alami."
"Baik, aku ikut bagaimana baiknya saja."
Isyana tersenyum mendengarnya. "Kau memang anak yang baik dan penurut."
...*...
Keesokan paginya, seperti yang telah mereka bicarakan saat sarapan kemarin. Rei akan menjalani pemeriksaan di rumah sakit guna mengecek seberapa parah amnesia yang menimpanya.
Rei dengan di temani Isyana dan Sandy—ayahnya, pergi melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.
Di rumah sakit, Rei melakukan berbagai pemeriksaan kesehatan. Ia menjalani beberapa tes kesehatan secara keseluruhan. Kemudian di minta untuk menunggu selama beberapa saat sampai dokter memanggil mereka untuk masuk ke ruangannya dan menjelaskan hasilnya.
Dokter di hadapan mereka hanya diam dan memperhatikan layar komputer yang tampak dihadapannya. Beberapa kali ia tampak beralih mengecek beberapa lembar berkas berisi data kesehatan Rei setelah melakukan pemeriksaan tadi.
"Seluruh tubuhnya normal, tidak ada tanda-tanda Rei menderita penyakit atau semacamnya. Dia benar-benar sehat." Dokter memulai dengan data yang dilihatnya pada lembar pemeriksaan.
"Syukurlah." Istana bergumam. "Tapi bagaimana dengan pemeriksaan lainnya, apakah ada penyebab yang membuatnya amnesia dok?" Ia kembali mengajukan tanya.
"Amnesia," gumam dokter mengulang ucapannya. Fokusnya beralih pada layar komputer dihadapannya yang menampakkan gambar rontgen kepala Rei dari beberapa posisi berbeda. Dokter sempat menanyai Rei dan mengamati mengenai kasusnya, tapi setelah menjelaskan apa yang terjadi, dokter maka mengambil tindakan rontgen untuk memastikan apakah ada sesuatu di kepalanya yang membuat Rei kehilangan ingatannya atau tidak.
"Dari yang saya lihat di sini, tidak ada masalah apa-apa dengan kepalamu. Kau baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda syaraf atau bagian otakmu yang mengalami kelainan akibat benturan atau semacamnya. Semuanya benar-benar normal," jelas dokter yang membuat Isyana dan Rei melongok mendengarnya.
Mereka benar-benar terkejut dengan apa yang telah diucapkan olehnya. Dokter beralih fokus kembali pada Rei. Ia menurunkan kacamata yang dikenakannya, kedua tangannya di lipat rapi di atas meja.
"Saya ingin bertanya satu kali lagi padamu, dan saya harap kau berbicara jujur terhadap kami. Apakah kau benar-benar tidak bisa ingat apa-apa?" tanya dokter memastikan. Ia menatap Rei lekat, begitu juga dengan Isyana yang masih tidak percaya dengan hasil yang diberitahukan dokter pada mereka.
"Aku sungguh tidak ingat apa-apa, bahkan aku tidak bisa mengingat bagaimana masa kecilku, darimana aku berasal, dan siapa orang tuaku. Selama ini aku menghabiskan waktuku mencari jati diriku dan berusaha mengembalikan ingatanku sekaligus mencari keluargaku. Kemudian aku bertemu dengan Elvina yang mengaku sebagai sepupuku, dan dia mengantarkanku kepada keluargaku," jelas Rei dengan raut wajah polosnya. Rei berkata jujur, tapi tampaknya dokter dihadapannya tidak terlalu yakin dengan jawaban Rei. Ia tidak puas dengan balasannya.
...***...