Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 439 - Inisiatif



...***...


Andrich membuka kedua matanya perlahan. Hal yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Melinda yang menatapnya intens dengan posisi kedua tangan yang dilipat di depan dada.


"Aku dimana?" Andrich mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


"UKS," jawabnya singkat.



Andrich bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia memegangi tengkuknya yang terasa sakit seolah baru saja dihantam oleh benda keras.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?" Andrich menatapnya bingung.


Melinda mendelik ke arahnya.


"Kau hampir saja membuat kegaduhan dengan nyaris melecehkan seorang gadis. Beruntung aku mengikutimu dan bertindak lebih cepat."


Andrich terdiam mengingat-ingat kembali. Setelah beberapa saat, ia baru ingat akan kejadian sebelum dirinya pingsan.


"Jadi kau yang sudah membuatku pingsan? Kau yang memukulku?"


"Ya. Aku melakukan itu agar kau tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dulu!"


Andrich tertegun. "Jadi… kau sudah tahu?"


"Tuan dan profesor sudah menjelaskan semuanya padaku tentang apa yang menimpamu dulu. Maka dari itu, saat aku melihat kau hampir melakukan hal yang sama seperti dulu, segera aku cegah. Memangnya kau tidak meminum serum yang diberikan profesor? Kenapa kau tidak meminumnya secara teratur?" Melinda mengubah air mukanya sebal.


Andrich balas menatapnya sengit. "Memangnya kau pikir, aku jadi seperti ini karena siapa?"


"Aku tahu, itu salahku. Dan aku benar-benar minta maaf. Karena aku tidak tahu kalau hal ini akan berdampak besar dalam kehidupanmu. Aku menyesal karena sudah memicu sisi lain dari dirimu muncul," gumam Melinda dengan wajah tertunduk. Ia benar-benar menyesal telah memancing diri Andrich yang lain muncul


Sejak awal, niatnya hanya ingin mengajak Andrich bekerja sama untuk menangkap Rei.


Andrich mengeluarkan smirk-nya begitu mendengar penyesalan dari Melinda barusan.


"Kalau kau benar-benar menyesal, maka kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu."


Melinda tertegun. Ia spontan mendongak menatap Andrich yang baru saja berujar.


"M… maksudmu?"


"Jangan pura-pura lugu dan seolah-olah kau tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku ucapkan." Andrich menarik tubuhnya hingga membuat tubuh Melinda menabrak dada bidangnya.


Posisi wajah mereka begitu dekat satu sama lain. Belum sempat Melinda berucap, Andrich lebih dulu bertindak. Meraih tengkuknya dan mulai mendaratkan ciuman dibibirnya.


Melinda terdiam. Andrich memperdalam ciumannya, mel*mat bibirnya secara perlahan, makin lama semakin rakus.


Melinda tak tinggal diam. Perbuatan Andrich berhasil memancing libidonya naik. Melinda membalas setiap gerakan Andrich.


Setelah berciuman cukup lama. Melinda melepaskan l*matannya begitu keduanya kehabisan oksigen.


"Sepertinya kau tidak menolak untuk bertanggung jawab." Andrich bergumam.


Melinda mengelap bibirnya dengan punggung tangan sambil menutupi sebagian wajahnya yang merona. Ini pertama kalinya, ia merasa kalah dalam permainan seperti ini. Hanya dengan Andrich. Padahal sebelumnya, ia sama sekali tidak pernah mengalami hal seperti ini. Mungkin karena dari dulu, Melinda seringkali mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk menggoda lawan mainnya. Dan diluar dugaan, sekarang dirinya yang digoda lebih dulu oleh lawan mainnya.


Benar-benar memalukan! pikirnya.


"Kenapa kau diam saja?" Andrich membuyarkan lamunannya. "Bukankah kau bilang akan bertanggung jawab? Apakah kau ingin, aku yang harus memulainya lebih dulu?"


"D… disini terlalu berbahaya, bagaimana kalau ada orang?"


...***...