Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 91 - Rumah sakit



...***...


Elvina membuka kedua matanya. Kabur, namun begitu ia mengerjap beberapa kali, akhirnya pandangannya jelas.


Putih. Itulah yang dilihatnya. Elvina menatap langit-langit tempatnya terbaring.


Dimana aku? Apakah aku sudah mati? Atau aku sudah berada di laboratorium? batinnya yang dipenuhi dengan berbagai tanya.


Elvina mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ia terbangun spontan begitu sadar dirinya berada dalam sebuah ruang rawat dengan alat infus dan oksigen yang terpasang pada tubuhnya.


I… ini… aku di rumah sakit? Elvina kembali mengedarkan pandangannya. Baru detik berikutnya, ia benar-benar sadar kalau dirinya berada di rumah sakit.


"Elvina." Suara seorang wanita menyita perhatiannya. Suara itu terdengar tidak asing. Elvina menoleh ke arah datangnya suara. Tepat di depan pintu masuk, Indri, mamanya berdiri seraya tersenyum.


"Mama…" Elvina menatapnya berkaca-kaca. Indri berjalan menghampiri Elvina lalu memeluknya erat. "Aku rindu mama," gumam Elvina tepat di telinganya. Air matanya sampai menetes melihat Indri dihadapannya, mendekap tubuhnya erat. Untuk sesaat Elvina merasa semua ini adalah mimpi. Ia mengencangkan pelukannya berulang kali hanya untuk memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi, dan ternyata ini nyata.



"Mama benar-benar senang akhirnya kau sadar." Indri berucap lirih. Suaranya sedikit tertahan karena tangisnya.


"Aku benar-benar senang akhirnya bisa bertemu lagi dengan mama, aku kira kita tidak akan bisa bertemu lagi," tuturnya.


Tak lama, Andre, papanya Elvina tiba di dalam sana. Ia bergegas menghampiri mereka begitu tahu Elvina telah sadar.


"Papa…" Elvina memeluk tubuhnya erat. Akhirnya, mereka bisa kembali di pertemukan seperti sekarang.


Setelah puas berpelukan dengan kedua orang tuanya, Elvina beralih memeluk ketiga adiknya yang ia rindukan.


"Oh ya, dimana William? Kalian menemukan William juga, kan? Papa dan mama menemukan dia juga, kan?" tanya Elvina.


"Benarkah? Syukurlah…" Elvina tersenyum simpul. Ia menundukkan kepalanya seraya menghela napas lega mendengar adiknya baik-baik saja.


"Ah, benar. Rei! Bagaimana keadaan Rei? Apakah Rei sudah ditemukan?" Elvina berubah cemas begitu ia mengingat tentang sepupunya itu.


Indri terdiam tanpa bersuara, begitu juga dengan Andre. Keduanya menundukkan kepala dengan raut wajah murung.


"Kak Rei masih belum ditemukan, dia masih hilang sampai sekarang," jelas adiknya yang ketiga.


"Apa? Apakah itu benar, ma, pa?" Elvina memandang bergantian kedua orang tuanya.


"Iya, benar, sayang," jawab Indri. Elvina tidak bisa percaya dengan apa yang di dengarnya. Apa yang ia harapkan, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang terjadi. Rei yang ia pikir sudah kembali, ternyata masih hilang dan bahkan belum ditemukan sampai saat ini.


Rei… kemana sebenarnya, kau? batin Elvina.


"Untuk saat ini, lebih baik kau cemaskan mengenai keadaanmu dulu. Kau baru saja kembali setelah menghilang berhari-hari di lautan. Biar papa panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu." Andre beranjak dari tempatnya guna memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Elvina.


Indri terduduk di tepi ranjangnya. Tangannya terulur mengusap pundak putrinya pelan. "Kau tidak usah cemas tentang Rei. Mama dengar, Tante sudah melaporkan hal ini pada polisi dan mereka sedang berusaha mencari Rei." Indri berusaha untuk menghibur.


"Aku sungguh cemas dengan keadaan Rei."


"Rei pasti baik-baik saja. Kau tidak perlu cemas."


"Aku takut, bagaimana jika terjadi sesuatu?"


...***...