
...***...
"Tidak mungkin anak yang dimaksud Joe itu, dia 'kan?" Profesor bergumam pelan. Saat ini dirinya berada dalam ruang kerjanya.
"Tapi berdasarkan ciri-ciri yang dimaksud Joe, benar-benar mirip seperti dia," lirihnya.
Profesor menghampiri salah satu rak yang ada di sudut ruang kerjanya. Ia menarik laci yang ada dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Profesor mengeluarkan sebuah berkas berisi data diri. Ia mengambil foto yang ada di sana dan memandanginya lekat.
"Apakah kau benar-benar masih hidup? Apa… selama ini kau tidak pernah mati?" Profesor menghela napas panjang. Sungguh, dirinya tak dapat mempercayai semua dugaannya.
Fokusnya beralih menatap bingkai foto dirinya di atas rak. Di dalam figura tersebut, ada gambar dirinya bersama dengan seorang laki-laki yang selama ini sudah menemaninya dari sejak dirinya kecil, bahkan sampai setua ini.
Tangannya bergerak meraih foto tersebut, mengusapnya perlahan sambil menatap sosoknya lekat.
"Hanya ada satu cara untuk memastikan semuanya Martin… aku harus menemukannya, dan membawa dia kemari!"
...*...
Joe terdiam di dalam ruangannya. Matanya menatap langit-langit kamarnya yang bergradasi warna putih.
Pikirannya melayang memikirkan tentang Rei yang entah kenapa sejak awal membuat dirinya penasaran akan sosoknya, apalagi ketika ia sadar bahwa Rei bukanlah manusia biasa sama seperti dugaannya.
Setelah kejadian tadi, ia semakin yakin kalau Rei adalah seorang evolver. Namun bersamaan dengan keyakinannya, pertanyaan lain mulai bermunculan menghampiri pikirannya.
Malam itu, Joe menghabiskan waktunya dengan merenung dan terus memikirkan identitas Rei yang sebenarnya.
...*...
Seorang gadis cantik dengan tubuh seksi nan tinggi semampai, berjalan menyusuri koridor yang tampak tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa robot android yang sesekali melintas berpapasan dengan dirinya.
Tubuhnya yang indah selalu berbalutkan pakaian ketat yang membentuk setiap lekuk tubuhnya, memamerkan setiap kemolekannya. Kaki jenjangnya berbalutkan high heels, melangkah penuh percaya diri. Sementara rambut panjangnya senantiasa ia kepang satu ke belakang.
Senyuman terpancar diwajahnya. Sudah lama dirinya menantikan hal ini. Menantikan saat-saat dimana pada akhirnya, ia akan melihat dunia luar.
Melangkah keluar dari laboratorium dan memulai kisah baru yang penuh petualangan serta gairah.
Beberapa saat yang lalu, ketika dirinya sedang menikmati waktu bersantainya setelah makan malam, ia mendapatkan panggilan dari profesor lewat telecosysnya. Profesor memintanya untuk bertemu di ruangannya guna membicarakan hal yang sangat penting.
Begitu mendapatkan kabar dari profesor, ia sudah tahu betul bahwa profesor akan memberikannya tugas istimewa yang hanya dilakukan oleh evolver penjaga terpilih.
Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan profesor. Aku ingin tahu tugas apa yang akan dia berikan padaku, batinnya. Ia semakin merekahkan senyumnya. Dengan semangat yang berapi-api, ia mempercepat langkahnya.
...***...