Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 171 - Mading



...***...


Ada sebuah tragedi yang terjadi di bagian lain sekolah yang membuat ratusan siswanya pada masa itu meninggal dengan cukup mengenaskan.


Setelah kejadian itu, banyak orang percaya kalau bagian lain sekolah itu telah dikutuk hingga membuat siapapun yang masuk dan melangkahkan kakinya ke dalam sana, akan mati secara mengenaskan atau diganggu oleh berbagai makhluk yang mati di sana.


Semenjak kegagalan kepala sekolah sebelumnya dalam menjaga keselamatan muridnya, pihak polisi sempat menutup sekolahnya, menuntut kepala sekolah dan pemilik bangunannya hingga mereka di jebloskan ke dalam penjara.


Namun semua tak berakhir di situ, kejadian lain terjadi dimana kepala sekolah dan pemilik sebelumnya yang masuk penjara, mati secara tiba-tiba di dalam sel tanpa sebab yang jelas.


Sekolah lalu beralih kepemilikan pada adiknya, dan di sinilah sekolah itu kembali di buka. Adik dari pemilik sebelumnya mengubah banyak hal dan menetapkan larangan yang ia tegaskan agar semua orang tetap selamat, dan termasuk memindahkan kegiatan belajar pada sisi lain.


Semenjak pindah dan sekolahnya terpisah dengan dinding beton, saat itu pula sekolah itu mulai kembali bangkit dan berhasil menjadi salah satu sekolah favorit yang banyak diidam-idamkan oleh banyak siswa untuk bisa bersekolah di sana.



"Sangat disayangkan, kita tidak berada di kelas yang sama." Seorang gadis berseragam putih itu berujar pada sahabatnya. Mereka berdiri di depan Mading yang kini dikerubungi oleh siswa-siswi baru.


Mereka berkumpul guna mengecek nama mereka berada di kelas mana. Gadis jelita yang diajaknya bicara itu berdecak kesal saat melihat namanya tidak berada di kelas yang sama dengan sahabatnya, padahal hal ini belum pernah terjadi sebelumnya karena sejak SD bahkan sampai SMP, mereka selalu berada di kelas yang sama.


"Menyebalkan! Kenapa kita harus berada di kelas yang terpisah?" gerutunya kesal.


"Mungkin sudah saatnya kita berada di kelas yang berbeda."


"Ini bukan kemauan kita, lagipula mau diapakan lagi, kita tidak bisa berbuat apa-apa." Sahabatnya berbicara dengan nada pasrah, padahal dalam hatinya ia sangat senang tidak berada di kelas yang sama dengannya. Jangan salah paham, bukan karena dia tidak suka dengan sahabatnya itu, namun karena sahabatnya itu selalu banyak bicara kalau berada dalam kelas yang sama dengannya. Ujung-ujungnya pasti telinganya penuh dengan suara melengking dari sahabatnya itu.


Bayangkan saja selama sembilan tahun bersekolah, dirinya harus terus bersama dengan sahabatnya itu, dan itu cukup membosankan.


Gadis itu mendadak dibuat terkejut oleh tindakan sahabatnya yang tiba-tiba melepas kertas di Mading.


"A… apa yang kau lakukan!" Gadis itu panik. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Aku akan protes, dan minta agar aku di pindahkan ke kelas yang sama denganmu."


"Apa? Kau gila?"


"Syukurnya aku masih waras. Lagipula apakah kau tidak lihat ini?" Sahabatnya menunjuk salah satu nama yang tertera di sana.


"Fandy berada di kelas yang sama denganmu?" Ia menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Aku tidak sudi satu kelas dengannya!"


"Kau jangan bersikap seperti itu, bagaimana pun juga kalian pernah memiliki hubungan yang spesial sebagai sepasang kekasih."


...***...