
...***...
"Jangan seperti itu, lagipula kalian pernah menjalin hubungan yang spesial sebagai sepasang kekasih." Ia menggoda sahabatnya.
"Eak! Jangan bahas soal itu lagi, aku benci dengan sikap posesifnya! Pokoknya aku akan protes dan minta untuk di pindahkan ke kelas lain!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu!" Gadis itu—Gloria, berlari setelah merebut paksa kertas berisi daftar nama siswa dari tangan sahabatnya—Lusia.
"Gloria! Apa yang kau lakukan!" Lusia berlari mengejar sahabatnya untuk mengambil kembali kertas yang berhasil direbutnya.
"Gloria, berhenti kau!"
"Aku tidak mau! Aku tidak akan membiarkanmu protes dan pindah ke kelasku!"
"Kau ini kenapa! Cepat kemari dan kembalikan kertas itu!" teriaknya seraya terus berlari mengejar sahabatnya yang telah berada jauh dari tempatnya berada.
Lusia berlari sekuat tenaga agar bisa menangkap Gloria yang kini berada jauh dari jangkauannya.
...*...
Semua mata tertuju padanya begitu ia tiba di tempat parkir dengan motor miliknya.
Rei melepas helmnya, semua orang melongok melihat sosok dibalik helm yang semula melekat menutupi kepalanya.
Rei melangkah turun, Isyana baru saja keluar dari dalam mobil dan siap untuk melangkah masuk ke dalam sana.
"Kita ke ruang guru lebih dulu," ucap Isyana tanpa menoleh, nada bicaranya masih sama dinginnya seperti saat di rumah. Wanita itu tampaknya masih sangat kecewa setelah tahu bahwa Rei melangkah anaknya, namun kesalahpahaman yang terjadi benar-benar tak dapat mereka selesaikan. Pasalnya terlalu sulit bagi Rei untuk mencari bukti agar mereka percaya bahwa dirinya memang benar-benar tidak ingat apa-apa.
Rei melangkah menghampiri gerbang masuk, ia berdiri sejenak di sana dan menatap bangunan sekolah bergaya Eropa itu.
"Astaga, dia siapa?"
"Aku baru melihatnya, dia seperti pangeran."
"Kira-kira dia di kelas berapa?"
"Aku harap bisa satu kelas dengannya agar aku bisa semakin semangat untuk pergi ke sekolah."
"Ugh… sepertinya mulai hari ini, aku punya semangat baru untuk sekolah."
Rei dapat mendengar dengan jelas suara bisikan orang-orang yang berdiri di sekelilingnya. Mereka menatap ke arahnya lekat sambil berbisik. Semua orang terpana melihat ketampanannya.
Jadi… ini tempatku bersekolah dulu? Ternyata sebuah sekolah elite bergaya Eropa. Rei membatin, matanya menatap lekat bangunan dihadapannya, ia menatap setiap inchi detail yang tampak dihadapannya.
Rei melangkah secara perlahan, berjalan masuk mengikuti Isyana yang sudah lebih dulu masuk melewati gerbang.
Rei tiba di koridor yang di sekelilingnya dihiasi oleh beberapa siswa yang baru saja berdatangan. Kehadiran Rei seketika menyita semua orang yang ada di sana, tak sedikit dari mereka yang berdecak kagum melihat sosoknya yang rupawan.
Rei mencari kemana arah Isyana pergi, setelah melihat kemana sosoknya pergi, Rei segera melangkah mengikutinya. Tapi tanpa aba-aba lebih dulu, seorang gadis berlari dan menabraknya dari arah belakang.
Rei tertegun dibuatnya. Ia menatap sosok gadis yang berlari tadi, ia seperti sedang di kejar oleh seseorang di belakangnya.
"Kenapa dia lari-larian di tempat ramai begini," gumam Rei. Ia berbalik hendak mengecek siapa yang mengejarnya. Baru saja ia menoleh, tubuhnya langsung bertabrakan dengan gadis lain yang berlari dari belakangnya.
Brukk!
Rei terhuyung jatuh bersamaan dengan gadis itu yang jatuh tepat di atasnya.
Rei terdiam. Beradu pandang dengan Lusia yang berada sangat dekat dengannya.
...***...