Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 361 - Om-om pengecut



...***...


"Kami sering di buat kewalahan menghadapinya," jelas Philip.


"Kalau begitu terus berusaha dan jangan sampai dia lepas. Bagaimanapun, kita harus tetap menangkapnya karena dia adalah projects istimewa. Dengan tertangkapnya dia, maka aliansi kita akan lebih kuat dari sebelumnya."


"Baik, tuan."



...*...


Waktu berlalu. Semenjak kejadian kemarin, William tak lagi bertemu baik dengan Claretta maupun lelaki yang terus bersikap kasar pada gadis yang entah sejak kapan mengganggu pikirannya.


Akhir-akhir ini, terutama semenjak kejadian di ruang UKS saat itu, William terus saja teringat akan Claretta dan sosoknya enggan raib dari ingatannya.


Ia terus dibayang-bayangi wajahnya yang jelita.


Aku terus saja kepikiran tentang Claretta, apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta dengannya? Tapi bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta lagi padahal jelas-jelas aku masih terus dibayang-bayangi oleh kenangan masa laluku. William membatin, ia menunduk dengan ekspresi murung.


William melangkah menyusuri koridor. Bel pulang baru saja berbunyi, dan ia hendak pulang sekarang.


Di sisi lain, Calvin dan Jack sudah lebih dulu pulang karena memiliki urusan mendadak yang tidak bisa mereka tinggalkan, alhasil William mau tidak mau harus pulang sendiri.


"Aku ingin segera pulang agar bisa segera beristirahat," gumamnya pelan sembari terus melangkah.


Tap!


"Apakah benar, kau adalah William?" tanya salah satunya.


"Ya, benar. Kalian siapa? Bagaimana kalian bisa tahu namaku?" William menunjuk wajah bingung.


Satu pria itu berjalan mendekat ke hadapan William dan berdiri sekitar beberapa centimeter dari arahnya. Mereka beradu pandang dalam jarak yang dekat satu sama lain.


"Kudengar kau mengganggu anak bos kami. Kami tidak bisa membiarkan itu," tutur lelaki itu dengan kedua tangan yang terlipat rapi di depan dada.


"Anak bos, om?" William menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia berusaha mengingat-ingat siapa orang yang di maksud oleh lelaki itu.


Setelah di ingat-ingat, William akhirnya mengerti siapa orang yang di maksudnya.


"Oh, aku tahu. Om dan teman-teman om ini adalah suruhan lelaki itu 'kan? Cih, dasar pengecut. Dia bahkan tidak bisa mengurus masalahnya sendiri sampai-sampai harus menyusahkan orang dewasa untuk menyelesaikan masalahnya." William tersenyum miring menanggapi sikap lelaki yang kemarin menarik-narik Claretta untuk bicara.


"Jaga bicaramu kalau kau ingin hidup dengan tenang, dan aku peringatkan padamu. Kalau kau berani mengganggunya lagi, maka keluargamu yang akan menerima akibatnya. Mengerti?" Pria itu menekan setiap kalimatnya.


William mendongak menatap tanpa gentar pada lelaki yang baru saja berucap.


"Om, tolong sampaikan pada anak pengecut itu untuk tidak melibatkan orang dewasa dalam masalah kami. Kalau dia memang berani denganku, jangan bawa-bawa keluargaku ataupun orang dewasa, dan kalau dia memang laki-laki, maka hadapi aku kayaknya laki-laki. Bukannya malah menyuruh orang guna melindungi diri seperti ini. Apalagi, menyuruh orang dewasa untuk mengancam seorang anak SMP? Bukankah itu terlalu pengecut?" William terkekeh pelan menanggapi ucapannya.


"Berani kau bicara seperti itu lagi, kami tidak akan segan-segan melukaimu."


"Oh, begitu rupanya. Ternyata om-om ini juga pengecut, ya? Beraninya keroyokan pada anak SMP?" William menatap satu persatu lelaki dihadapannya, tanpa takut.


...***...