
...***...
Ciumannya berubah menjadi l*matan. Lidahnya bergerak menerobos masuk ke dalam mulutnya, saling bermain satu sama lain di dalamnya.
Di sisi lain, tangan Melinda bergerak menyelinap masuk di antara pakaian Andrich. Mengusap setiap lekuk otot perut pria itu yang terbentuk begitu sempurna.
Melinda menelan saliva-nya susah payah. Hanya dengan menyentuh otot perutnya saja sudah cukup untuk membuatnya bergairah.
Tangannya terus bergerak naik, memainkan ujung dada lelaki itu. Hal yang selalu bisa membuat rangsangan pada libidonya.
Dalam posisi sedekat ini, Melinda bisa merasakan bagian bawah Andrich mulai mengeras.
"Kau benar-benar nakal," bisik Andrich sambil melepaskan ciuman mereka. Keduanya beradu tatap dalam jarak sangat dekat.
Melinda tersenyum simpul.
"Tapi kau suka dengan permainanku 'kan?"
Andrich tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis membenarkan ucapannya.
Melinda menarik pakaian Andrich ke dua sisi yang dalam sekejap membuat bajunya robek.
Melihat bentuk tubuh sempurnanya membuat Melinda tidak bisa menahan gelora dalam tubuhnya.
Ia bangun dan cepat-cepat menarik tubuh Andrich. Lelaki itu hanya menurut dan bangun seperti yang diinginkannya.
Melinda mendorong tubuhnya ke atas ranjang dan duduk diatasnya. Mereka kembali memulai permainannya dari sebuah ciuman.
...*...
Ceklek!
Pintu terbuka hingga membuat cahaya remang-remang itu kembali menembus masuk ke dalam ruang gelap yang ditempatinya.
William bergeming di tempatnya. Tubuhnya masih terasa lemas. Bukan hanya akibat sengatan listrik yang menyentuh permukaan kulitnya saja, melainkan karena perutnya juga kosong dan sama sekali belum diisi selama berjam-jam lamanya.
Jam makan malam sepertinya sudah lewat. William tidak bisa mengetahui jam berapa sekarang ini tapi yang pasti perutnya benar-benar terasa lapar.
Joe, tiba di hadapan William lalu berjongkok tepat dihadapannya.
"Lepaskan aku…" lirih William saat melihat lelaki itu berdiri di dekatnya.
Joe hanya diam. Menatap William tanpa kata.
"Ternyata kau masih belum bisa diam," gumamnya sambil menghela napas pelan.
Tak lama. Ia kemudian menarik tangan William, membantunya untuk bangun.
William memberontak saat Joe berusaha membangunkannya.
"Bangun dan ikut denganku," ujar Joe dengan suara normal.
"Lepaskan aku! Aku tidak ingin ikut denganmu." William kembali memberontak dengan sekuat tenaga.
"Diamlah!" Joe menarik tubuhnya hingga benar-benar bangun. Ia lalu membawa William keluar dari dalam ruangan itu.
"Kau akan membawaku kemana? Lepaskan aku!" William berusaha menahan langkahnya hingga terseret oleh Joe yang notabenenya punya tenaga lebih kuat darinya.
Joe tak menjawab dan terus membawanya hingga mereka tiba di sebuah ruangan.
"Duduk!" Joe mendudukkan William secara paksa di salah satu kursi kayu yang ada di ruangan tersebut.
William menapakkan raut wajah bingung. Di atas meja yang ada dihadapannya, sudah terdapat beberapa piring makanan lengkap dengan lauknya.
Joe mengambil duduk di kursi lain yang ada disampingnya.
"Apa ini?" William berucap terbata.
"Bagaimanapun aku bekerja keras untuk menangkapmu dan aku butuh tenaga lebih untuk membawamu ke markas. Apalagi aku seorang diri tanpa ada yang membantu. Maka dari itu, kau juga harus makan agar tidak membuatku kesusahan!" Joe memberikan makanan yang ada di piring yang dilihatnya ke arah William dan memberikannya sendok untuk makan.
William menatap Joe penuh curiga. Dirinya tidak mungkin percaya padanya.
...***...