
...***...
Derek mulai terusik saat suara melengking seorang wanita menyerukan namanya.
Ia membuka kedua matanya dengan malas. Menyipitkan matanya yang masih belum bisa terbuka sempurna. Semalaman ia tidak bisa tidur karena harus mengurus proyeknya yang masih belum selesai, memastikan proyek itu benar-benar siap sebelum ia mencobanya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu kembali terdengar menginterupsi seisi ruangan. Ia mendongak ke arah pintu, dengan malas ia bangun dan duduk berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya.
"Derek!" panggilnya lagi.
Siapa yang menggangguku di jam-jam seperti ini? Apakah dia tidak tahu kalau aku sangat kelelahan? Derek dengan malas bangun dari ranjang tidurnya. Ia berjalan gontai menuju arah pintu dan membukanya perlahan.
"Apa yang kau inginkan pagi-pagi seperti ini?" ujarnya menatap wanita yang berdiri di hadapannya. Derek mengerjap berusaha memperjelas penglihatannya yang kabur.
"Pagi? Apakah kau bermimpi? Ini sudah sore!" tukas Pricilla.
"Sore?" Otaknya masih berusaha memproses setiap kejadian yang ia alami. Setengah kesadarannya masih tertinggal di alam mimpinya.
"Tunggu, apa?! Sore?" Ia membelalakkan mata saat sadar apa yang di ucapkan oleh wanita di hadapannya.
"Ya, sudah sore. Apakah kau tidak memiliki jam? Atau kau memiliki masalah untuk membedakan antara pagi dan sore?"
"Astaga, gawat! Aku pasti lupa untuk memasang alarm." Derek panik, ia bergegas masuk kembali ke dalam kamarnya.
Pricilla berjalan mengekor di belakangnya. Ia masuk tanpa permisi dan melihat keadaan ruangan yang di tempati oleh Derek yang dalam keadaan kacau bukan main.
Srekk!
Derek membuka tirai yang menutupi kamarnya. Membiarkan cahaya matahari sore menyinari kamarnya untuk sejenak.
"Astaga, lihat ini. Kenapa sangat berantakan?" Pricilla mengkritik.
"Tunggu, bukankah kau adalah wanita yang kemarin membantuku? Kenapa kau kemari, dan siapa yang membiarkanmu masuk?"
"Oh, itu… maaf karena sudah masuk tanpa izin. Tapi yang jelas aku datang kemari untuk bertanya sesuatu padamu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Derek naikkan sebelah alisnya bingung.
Pricilla menghampiri pintu dan menutupnya dapat. Di dekat pintu masuk, ia meraih sebuah barang yang terbuat dari kaca dan melemparkannya ke arah Derek hingga membuat lelaki itu refleks menggunakan kemampuannya untuk menangkap benda itu agar tidak pecah.
"Apa yang kau lakukan?!" Derek menatapnya dengan raut wajah kesal. Nyaris saja wanita itu memecahkannya properti milik penginapan.
"Itu yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah kau adalah seorang manusia super?" tanya Pricilla.
Tukk!
Derek menaruh benda yang terbuat dari kaca itu ke tempat semula. Ia kembali beralih fokus pada wanita yang baru saja bertanya padanya.
"Manusia super? Tidak, aku bukan manusia super."
"Kau berbohong! Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan mengenai kemampuan yang kau miliki?!"
"Kemampuan yang aku miliki? Maksudmu ini?" Derek menggerakkan tangannya, membuat gesture mengangkat yang dalam sekejap membuat benda yang dilihatnya bergerak sesuai arahan gerak tangannya.
"Ya! Bagaimana kau menjelaskan itu?"
"Apakah kau tidak pernah mendengar tentang telekinesis, nona?" Derek menarik kembali benda itu dan beralih fokus pada berkas-berkas berisi data yang telah ia susun ulang untuk pengecekan.
"Telekinesis?" Ulang Pricilla.
Derek memang sudah waspada sejak pertemuan awalnya dengan Pricilla. Beruntung ia memiliki kemampuan yang serupa dengan telekinesis, jadi lebih mudah baginya beralasan.
...***...