Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 254 - Salah bicara?



...***...


"Ayolah jangan pura-pura." Gloria menggoda Rei.


"Dia bilang, dia tidak bicara seperti itu!" tukas Lusia dengan wajah memerah. Gloria melirik ke arah sahabatnya itu.


"Aku sedang berbicara dengan Rei, bukan denganmu."


"L… lagipula kau suka sekali menggoda orang lain. Sudahlah, ayo fokus makan! Jam istirahat hanya sedikit, jangan buang-buang waktu untuk membahas hal yang tidak penting." Lusia menarik nampannya, mengambil sendok serta garpunya.


Gloria memutar bola matanya jengah. Ia yakin Lusia hanya ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


Gloria tak ingin ambil pusing dan kembali makan, pun Heru serta Rei yang kini mulai berusaha fokus pada makanannya.


Lusia sempat melirik ke arah Rei sekilas lewat ujung bulu matanya sebelum kemudian benar-benar fokus untuk menikmati makan siangnya.


Apakah tadi dia salah bicara?



...*...


Suara derit kaki meja yang menggores permukaan lantai membuat atensi Lusia beralih pada asal suara.


Rei mengambil duduk tepat di kursi kosong yang ada di sebelahnya.


Lusia mendelik dengan tatapan heran. "Kenapa kau duduk di sini? Bukankah kursi lain masih banyak yang kosong?"


"Aku ingin saja, memangnya ada peraturan yang tidak memperbolehkan siswanya untuk duduk bersebelahan dengan siswa lain?" Rei menaruh buku-buku yang dipinjamnya ke atas meja.


"Memang tidak ada tapi…"


"Sssttt…" Mendadak salah satu siswa yang melintas mendesis dengan satu jari telunjuk yang di taruh di depan bibir memintanya untuk diam.


"Maaf," bisik Lusia sembari tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.


Lusia kembali melanjutkan buku yang sedang di bacanya. Sekarang ini, ia sedang berada di ruang perpustakaan.


Rei yang duduk di sampingnya itu diam sambil memperhatikan Lusia. Entah kenapa, namun akhir-akhir ini memperhatikan Lusia sudah menjadi kebiasaan barunya.


Merasa ada yang mengawasi, Lusia beralih tatap dan mendapati lelaki disampingnya yang sedang diam menatapnya intens.


"Apa yang kau lakukan?"


"Tidak ada," jawab Rei.


"Lalu kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?" Lusia mengusap wajahnya, mengeluarkan ponselnya guna melihat pantulan wajahnya di kaca ponselnya.


"Tidak ada apa-apa di wajahmu."


Lusia melirik ke arahnya dengan mata menyipit. "Lalu kenapa kau terus menatapku?"


"Aku hanya sedang mengagumi kecantikanmu." Rei tersenyum sedang gadis yang di pujinya berubah merona.


Lusia memalingkan wajahnya cepat. Ia jadi salah tingkah karena ucapan Rei.


"A… apa yang kau bicarakan. Sudahlah fokus pada bacaanmu!" Lusia menenggelamkan wajahnya diantara buku yang ia genggam.


Kenapa dia harus bicara seperti itu? Membuatku berdebar saja, batin Lusia.


Rei bergeming. Matanya tak lepas dari sosoknya, ia terus menatap ke arah Lusia walau wajahnya di tutupi buku.


Apakah dia masih menatapku? Lusia berusaha mengintip lewat buku, tapi begitu ia menoleh, Rei ternyata masih menatapnya. Lelaki itu bahkan kembali menyunggingkan senyum saat mata mereka saling beradu tatap.


Pasti ada yang tidak beres dengannya. Kenapa sikapnya jadi aneh seperti ini?!


Lusia menarik kursinya sedikit menjauh dari tempat Rei duduk. Berharap dengan begitu, Rei tak terus memperhatikannya. Diluar dugaan, Rei justru ikut menggeser kursi yang ia duduki, merapat ke arah Lusia.


"A… apa yang kau lakukan!" Kesal Lusia.


"Aku ingin duduk dekat denganmu," jawabnya.


...***...