
...***...
Aku tidak boleh sampai kalah! batin Joe.
Percikan listrik pada tangan Elvina yang bercampur dengan medan gayanya, mulai bermunculan. Semakin lama semakin terlihat jelas hingga medan gaya yang tampak jadi lebih besar.
Baru saja Elvina hendak menghempaskan tangannya menuju arah Joe, lelaki itu lebih dulu bergerak cepat mengumpulkan seluruh energinya dan menggerakkan kedua tangannya membentuk gesture mendorong.
Bugh!
Elvina mengeluarkan darah dari mulutnya, tubuhnya terpental jauh. Serangan Joe yang begitu kuat membuat sengatan listriknya menyambar kemana-mana sampai keadaan sekitar di tutupi asap hitam.
Elvina tersungkur di tanah. Energinya terkuras akibat serangan Joe. Beruntung masih ada sedikit energi yang tersisa yang membuat Elvina masih bisa bertahan.
...*...
"Argh!" Rei membuka matanya. William tersentak saat kakak sepupunya itu mendadak berteriak.
"K… kau kenapa?" William memandanginya dengan raut wajah bingung.
"Elvina sedang berada dalam bahaya."
"Apa?!"
"Dia bertemu dengan Joe lagi."
"Kalau begitu kita tidak boleh tinggal diam! Ayo kita bantu dia!" William bangun dari tempatnya. Dengan wajah cemas, ia segera bersiap sebelum pergi ke tempat dimana kakaknya bertarung dengan Joe.
Rei segera bangun, meraih kunci motornya sementara menunggu William yang selesai bersiap.
El… kau baik-baik saja? Rei berusaha terhubung dengan sepupunya di seberang sana.
Rei?
Aku melihatmu bertarung dengan Joe. Kau baik-baik saja? Apakah kau terluka parah?
Aku baik-baik saja. Aku masih bisa bertahan, tapi aku tidak yakin berapa lama aku bisa bertahan dan menghadapi Joe. Serangannya benar-benar kuat sedangkan energiku semakin menipis.
Aku tidak yakin dapat bertahan selama itu…
Rei menghela napas panjang. Ia berusaha untuk tetap tenang walaupun begitu mencemaskan Elvina yang sedang berada dalam bahaya.
Aku harus memikirkan cara lain untuk membantu Elvina, ucapnya dalam hati. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya mendapatkan ide untuk meminta bantuan Louis.
Louis, panggilnya dalam pikiran. Lelaki albino itu langsung menampakkan wujudnya ketika namanya terucap dalam pikirannya.
"Aku di sini tuan."
"Aku membutuhkan bantuanmu, bisakah kau pergi dan membantu Elvina? Dia sedang berada dalam bahaya. Bantu dia mengalahkan Joe."
"Aku akan segera pergi."
"Pergilah."
Louis membungkuk sebelum akhirnya hilang dari pandangan Rei.
William melangkah turun dengan jaket dan celana panjang yang sudah melekat di tubuhnya.
Tanpa pikir panjang, keduanya segera pergi meninggalkan rumah untuk membantu Elvina yang berada dalam bahaya.
...*...
"Argh…" Elvina meringis kesakitan saat lagi-lagi serangan Joe berhasil mengenai dirinya. Tubuhnya benar-benar kesulitan untuk di gerakkan, sedang energinya semakin menipis.
"Tidak akan aku biarkan kau menang lagi untuk kali ini, Elvina." Joe menghampiri wanita yang tersungkur tak berdaya di tanah itu.
Louis muncul, tak ada seorangpun yang melihatnya ataupun menyadari kedatangannya karena hanya Rei yang mampu melihat lelaki itu.
Louis menatap Elvina yang kini tak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali, lalu Joe, lelaki itu semakin mendekat ke arahnya.
"Aku harus membantu Elvina mengalahkannya." Louis berlari menuju arah Elvina, bergerak secepat cahaya lalu dalam satu kali gerakan. Tubuhnya masuk ke dalam raga Elvina.
"Kau tidak akan bisa mengelak lagi sekarang." Joe mengepalkan tangannya, percikan listrik mulai bermunculan pada kepalan tangannya, ia akan menggunakannya untuk melumpuhkannya.
...***...