Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 366 - Hey, sayang!



...***...


"Biar ayah perjelas situasinya. Maksudnya, kau berurusan dengan adik dari pak Leon Delacroix?" Harrison memperjelas situasinya.


"Ya, dan dia meminta ayah untuk datang ke kantornya besok."


Harrison menghela napas pelan mendengar penuturan anaknya.


"Aku ingin ayah bantu aku, buat dia menyesal karena sudah menggang…"


Plakk!


Sebuah tamparan keras mendarat mulus tepat di pipi kirinya hingga membuat Anton tersungkur di lantai.



"Bodoh. Apakah kau tidak tahu kau sedang berurusan dengan siapa? Apakah kau tidak tahu siapa Leon Delacroix itu?" Harrison mendadak murka.


Anton menoleh pada ayahnya dengan mata berkaca-kaca. "M… memangnya apa yang salah?" tanyanya dengan suara gemetar.


"Kau berani membuat masalah dengannya, sama artinya dengan kau membuat hidup kita susah!" tukasnya.


"Kau sudah mengusik hidupnya, dan sekarang dia marah. Dia pasti tidak akan tinggal diam, dia akan melakukan sesuatu yang mengancam perusahaan kita."


"Apa?"


"Sekarang apa yang harus kulakukan untuk menghadapinya?" Harrison bergumam pelan, ia mengusap wajahnya kasar.


A… aku tidak tahu kalau dia ternyata bukan orang biasa, batin Anton. Tangannya gemetar hebat melihat kemarahan dari ayahnya yang begitu meledak-ledak.


Ayah sampai semarah ini saat tahu kalau aku berurusan dengan adiknya lelaki bernama Leon Delacroix. Itu artinya kalau dia bukanlah orang biasa, pikirnya.


...*...


Keesokan harinya, Leon menunggu kedatangan Harrison di kantornya. Tepat satu satu jam sebelum istirahat makan siang, lelaki itu datang bersama dengan salah satu orang kepercayaannya.


"Saya mohon, maafkan kesalahan anak saya dan mari kita lupakan kejadian ini. Saya tidak ingin bisnis saya hancur." Harrison memohon-mohon pada Leon.


"Aku tidak bisa memaafkannya. Dia sudah berani mengganggu adikku, dan tidak mungkin aku diam saja. Keputusanku sudah bulat, aku akan menarik menarik semua investasiku dari perusahaanmu!" Leon menegaskan.


"Ta… tapi…"


"Kau boleh pergi sekarang," usirnya sambil bangun dari sofa dan bergerak menuju meja kerjanya.


"Tidak bisakah kita membicarakan ini lagi? Saya berjanji akan meminta anak saya untuk tidak mengusik keluarga gadis itu dan adik anda."


"Tidak ada negosiasi ulang! Pergi." Leon menunjuk pintu keluar yang masih tertutup.


Dengan perasaan hancur lelaki itu bangun dari tempat duduknya bersama orang kepercayaannya, melangkah pergi keluar dari ruang kerja Leon begitu ia gagal mengajaknya berdamai.


Elvina yang baru saja hendak masuk ke ruangan Leon untuk memberikan berkas titipan dari rekan kerjanya seketika menghentikan langkah saat melihat beberapa pria keluar dari ruang kerja kekasihnya dengan wajah murung.


Elvina menatap bingung pada beberapa orang pria itu yang kemudian berlalu tanpa menoleh padanya.


"Siapa mereka? Dan kenapa wajah mereka seperti itu? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" gumam Elvina pelan.


"Ah, tidak ada waktu untuk mengurusi orang lain. Aku masih memiliki banyak pekerjaan." Elvina menggelengkan kepalanya pelan lalu berbalik dan melangkah menuju pintu masuk.


Ia mengetuk pintunya pelan lalu masuk begitu Leon mempersilahkannya.


"Hey, sayang!" Wajah Leon berubah sumringah saat melihat kekasihnya itu datang.


Elvina melotot mendengar kalimat yang terlontar dari mulutnya. Ia spontan berlari dan membekap mulutnya.


"Apa yang kau lakukan! Jangan memanggilku seperti itu, ini di kantor. Bagaimana kalau ada orang yang dengar?"


"Memangnya kenapa kalau ada yang dengar?"


...***...