Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 162 - Alasan klasik



...***...


"Ayo, aku antarkan kau masuk." Leon hendak membawa Elvina masuk.


"Biar aku saja yang mengantarkannya masuk," ujar Rei menahannya.


"Tidak perlu! Biar aku saja. Aku ini atasannya dan aku lebih berhak mengantarkannya masuk. Lagipula kau ini siapa, kenapa kau terus berada di sini? Apakah kau tidak memiliki rumah?" ketus Leon pada Rei. Ia menepis tangan Rei yang baru saja hendak menarik Elvina dan membawanya masuk.


"Tidak apa-apa sepertinya lebih baik aku diantarkan Rei masuk, kau pulang saja." Elvina menengahi.


"Kau membelanya? Mentang-mentang dia pacarmu, jadi kau lebih memilih untuk masuk dengan dibantu olehnya? Oke, masuklah! Masuklah dengan pacarmu itu!" Kesal Leon, ia meledak-ledak.


Elvina dan Rei tertegun dibuatnya. Mereka menatap Leon dengan raut wajah bingung.


"Sepertinya kau salah paham. Ini Rei, sepupuku," gumam Elvina yang kemudian memperkenalkan Rei.


"Cih, sepupu. Alasan klasik, kalian tidak perlu bersandiwara di depanku. Lagipula kalaupun kalian pacaran, tidak apa-apa. Jujur saja, tidak perlu kalian menyembunyikan status kalian sebagai sepupu segala. Trik kalian sudah basi. Sepupu apanya, sepupu ketemu gede." Leon melipat kedua tangannya di depan dada. Ia melirik Rei dari atas sampai bawah. Leon benar-benar tidak percaya kalau Rei adalah sepupunya. Pasalnya Rei memiliki perawakan tinggi, dan tubuhnya nyaris seperti orang dewasa, bersaing dengan dirinya.


Astaga, dia tidak percaya dengan ucapanku. Padahal aku berbicara yang sesungguhnya. Elvina menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau kau tidak percaya, kami bisa tunjukkan foto-foto waktu kami kecil agar kau bisa percaya." Rei melirik Leon.


"Foto?" Ulang Leon. Rei mengangguk sementara Elvina sudah tak ingin ambil pusing.


"Masuklah, akan aku tunjukkan semuanya." Elvina berjalan mendahului.


Leon lalu berjalan mengekor dibelakang Elvina dengan Rei disampingnya. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah.



M… mereka benar-benar sepupu? Ternyata aku sudah salah menduganya selama ini, batin Leon yang kini memandangi beberapa album foto berisi gambar-gambar Elvina dari kecil bersama dengan Rei dan William. Beberapa diantaranya hanya berisi Rei dan Elvina karena kedekatan mereka dari kecil sudah terjalin bahkan sebelum William lahir. Elvina, Rei, dan William hanya berbeda masing-masing dua tahun.


"Bagaimana? Kau percaya sekarang?" tanya Rei. Leon mengalihkan pandangannya padanya yang baru saja berucap.


"Ya, aku percaya." Leon kembali mengalihkan pandangannya pada gambar Elvina yang berada dalam album yang dilihatnya. Ia memperhatikan satu foto Elvina kecil yang tengah duduk bersama Rei dengan mengenakan setelan pakaian berwarna merah muda, duduk dengan Rei kecil yang mengenakan setelan pakaian warna hitam dengan strip merah.


Dia begitu manis, pikir Leon. Ia menarik senyum menatap Elvina di foto yang dilihatnya.


"Oh ya, aku minta maaf karena kesalahpahaman yang tadi terjadi. Aku salah mengira kalau kau adalah pacarnya Elvina." Leon meminta maaf pada Rei.


"Tidak apa-apa."


"Karena kau sudah melihatnya, lebih baik kau pulang. Ini sudah sangat larut malam, dan sangat berbahaya untukmu kalau pulang terlalu malam." Elvina mengusirnya secara halus.


"Karena ini terlalu malam, jadi sepertinya lebih baik aku menginap."


"Apa? Tidak. Tidak bisa!" Elvina menolak keras.


"Kenapa? Bukankah kau yang cemas terjadi sesuatu denganku saat di jalan, lalu kenapa kau melarangku untuk menginap di sini?"


"Itu…"


"Pokoknya aku akan menginap!"


...***...