
...***...
"Sebenar-benarnya kita akan kemana? Apakah tidak lebih baik kalau kau meminta izin pulang lebih cepat dulu pada guru-guru di sekolahmu?" tanya Lucy yang kini mengemudi.
Setelah menolak berulangkali, Rei akhirnya ikut bersama dengan Lucy dan Aland setelah Louis membujuknya dengan alasan tenaganya masih tidak memadai untuk berkendara.
Disinilah dia sekarang. Duduk di samping kemudi dengan Lucy yang kini fokus pada jalanan.
Mereka hanya berdua. Sementara Aland kini membawa motor milik Rei dan berjalan mengikutinya.
"Kita ke rumah Elvina. Aku harus bertemu dengannya."
"Elvina? Bukankah seharusnya jam segini dia bekerja?" Lucy melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya begitu mendengar ucapan Rei.
"Dia di rumah," balas Rei yang masih berusaha tenang.
Sementara tubuhnya terdiam, beda halnya dengan pikirannya yang sejak tadi terus berkelana. Mencaritahu kemana sebenarnya Joe membawa William, dan kemana pula Andrich serta Melinda membawa Lusia pergi.
Dua orang yang disayanginya, di bawa dan hilang di saat yang bersamaan satu sama lain.
Aku gagal menangkap pria itu tadi, tapi setidaknya dengan aku mengantar Rei, siapa tahu aku mendapatkan petunjuk, pikir Lucy yang terus fokus menatap ke depan.
Rei dapat dengan jelas mendengar kalimatnya.
Rei termangu menatap Lucy tanpa berkata-kata.
Apa sebenarnya kaitan antara Liana, Andrich dan tuannya? Lalu untuk apa Liana dan Aland menyamar sebagai guru untuk menyelinap masuk ke sekolahku? Aku semakin penasaran dengannya. Rei membatin.
Sepertinya ini adalah saat yang tepat untukku mengorek informasi darinya. Lucy melirik ke arah Rei yang sekarang beralih pandang lurus ke depan.
Bukan kau yang akan mengorek informasi dariku, tapi aku yang akan mengorek informasi darimu. Rei membatin.
"Aku juga tidak terlalu ingat. Memangnya kau tidak ingat apa-apa?" balas Rei pelan.
"Hal terakhir yang aku ingat sebelum tidak sadarkan diri adalah aku melihat seorang gadis bersama dengan seorang lelaki. Gadis itu dalam keadaan tidak sadarkan diri, karena si lelaki menancapkan jarum suntik ke arahnya. Sepertinya itu berisi obat bius. Dan kalau tidak salah, orang itu adalah lelaki yang sama yang kita temui beberapa waktu lalu." Lucy berusaha mengingat-ingat.
Rei membelalakkan mata.
"Apa kau bilang? Kau melihatnya?" ujarnya dengan wajah terkejut.
"Ya…" Lucy mengangguk pelan. "Kenapa kau terkejut, apakah kau kenal dengan perempuan itu?"
"She is my girlfriend!"
"What?!" Lucy membelalakkan mata. "Seriously?"
"Ya. Apakah kau yakin benar-benar melihatnya?"
"Ya. Tapi tunggu, bagaimana kau tahu itu adalah kekasihmu?"
"Itu… aku melihatnya pergi bersamanya, maka dari itu aku mengikuti dia. Tapi aku sempat kehilangan jejaknya." Rei beralasan.
"Coba jelaskan ciri-ciri gadis itu." Rei berusaha memastikan.
"Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan terlalu jelas. Tapi yang pasti dia memiliki rambut yang panjang, cukup tinggi dengan kulit putih."
"Lalu apa yang dia lakukan setelah membiusnya?"
"Pria itu bersama wanita lain. Wanita cantik dengan tubuh seksi, dan sepertinya dia cukup dekat dengan pria itu." Lucy kembali mengingat-ingat, dan memang benar Melinda yang dilihatnya.
Apakah jangan-jangan itu Melinda?
...***...