
...***...
"Rei?" Lucy dan Aland membelalakkan mata saat melihat lelaki itu tiba dengan cara yang tidak biasanya.
"Bagaimana dia melakukan itu? Apakah selain kekuatan waktu itu, dia juga masih memiliki kekuatan lain?"
"Hebat. Ini benar-benar luar biasa," gumam Aland dengan raut wajah kagum. Baru kali ini dirinya melihat seorang manusia terbang tanpa bantuan pesawat atau sayap.
"Ini bukan mimpi 'kan?" Aland menoleh ke arah Lucy yang terduduk di sampingnya.
"Itu tidak penting. Yang terpenting sekarang, kita harus mengikuti mereka." Lucy menunjuk keluar kaca mobilnya.
Begitu Aland menoleh, ia melihat Rei dan Elvina sudah beranjak dari tempatnya semula.
Mereka melangkah pergi dari sana.
"Ayo!" Lucy keluar dengan Aland yang mengekor dari belakang. Mereka harus mengawasi kedua sepupu itu dan memastikan apa saja yang mereka lakukan.
Lucy dan Aland yakin bahwa Elvina dan Rei bisa mengantarkan mereka menuju tempat dimana targetnya bersembunyi.
...*...
"Lepaskan aku!" Derek memberontak. Berusaha membebaskan diri dari cengkraman dua orang evolver penjaga yang menyeretnya secara paksa.
"Diam!" Salah satu penjaga membentaknya dan terus menyeretnya hingga tiba di dalam ruang laboratorium.
Di sana sudah ada Joe, profesor dan tuannya yang tengah berdiri sambil mengecek beberapa evolver yang berada dalam tabung inkubasi.
"Joe…" lirihnya yang dalam sekejap membuat Joe berbalik bersama dengan tuan dan profesor.
"Derek…" Joe membulatkan kedua matanya melihat adik satu-satunya itu diseret paksa oleh dua evolver penjaga.
Penjaga itu mendorong tubuh Derek hingga membuat lelaki itu tersungkur jatuh di lantai.
Brukk!
Derek berada tepat di bawah kaki mereka.
Joe masih tercengang dengan apa yang dilihatnya.
"Lihat Joe? Sudah kami katakan kalau kami akan menangkap Derek bagaimanapun caranya." Profesor berucap. Ia berjongkok di dekat Derek lalu menjambak rambutnya.
"Akh—" Derek meringis kesakitan saat kepalanya di paksa mendongak. Tatap kedua netra profesor yang menatapnya tajam.
Joe masih terdiam. Tanpa sadar, kedua matanya memanas. Bersamaan dengan itu, ia mulai berkaca-kaca melihat perlakuan profesor terhadap adiknya.
"Kau tahu apa yang akan kami lakukan padanya, Joe?" Profesor menoleh ke arah Joe dengan seringai di wajahnya.
Joe bergidik, ia mulai dihampiri ketakutan.
Joe hanya takut keselamatan adiknya di pertaruhkan.
"Ayo, ikut aku!" Profesor menjambak rambutnya semakin kencang. Menyeret tubuh Derek menuju salah satu tabung inkubasi yang telah mereka persiapkan sebelumnya.
Joe terpaku ditempatnya sambil menatap perlakuan profesor pada adiknya.
Lelaki itu menyeretnya secara paksa.
"Kau tidak perlu shock, Derek memang pantas mendapatkan perlakuan seperti itu," bisik tuannya.
Joe menoleh pada lelaki disampingnya dengan mata yang mulai memancarkan amarah.
"Dia akan melewati masa inkubasi untuk yang ke lima kalinya, lalu selanjutnya dia akan menjalani operasi pemasangan chip di otaknya lagi. Tapi kali ini bisa dipastikan chip di otaknya tidak akan rusak lagi, Karena profesor sudah meracik serum khusus untuk melumpuhkan beberapa sel saraf di otaknya yang selama ini merusak jaringan sistem perintah yang kami kirimkan." Lelaki itu menyeringai.
"Lepaskan aku!" Derek berteriak dan terus memberontak.
Tatapan Joe kembali tertuju pada adiknya. Profesor mulai membuka tabung itu dan menarik Derek hingga berdiri.
Lelaki itu menarik paksa pakaiannya dan mulai memasang beberapa alat untuk mengatur sistem tubuhnya.
...***...