
...***...
Pricilla diam seribu bahasa. Kedua netranya menatap ke arah luar jendela.
Aku tidak percaya pada akhirnya aku memutuskan untuk pergi dan meninggalkan karirku di sini, batinnya. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, memang berat bagi Pricilla harus meninggalkan segalanya di Indonesia guna menyelamatkan dirinya dari bahaya.
Karirnya baru saja bersinar sebagai seorang dokter bedah, tapi apa yang terjadi membuatnya harus merelakan itu semua.
Pricilla menundukkan kepalanya, ingatannya mendadak kembali mengenang kejadian semalam. Di tengah malam, dirinya harus menulis surat pengunduran dirinya dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Semalaman dirinya dibuat frustasi dengan memaksakan diri menulis surat pengunduran diri. Matanya bahkan tak henti mengeluarkan bulir-bulir air mata ketika ia tengah menulis, namun Derek memaksanya untuk menulis.
Pagi-pagi sekali, setelah semuanya selesai, Pricilla segera mengirimkan surat pengunduran dirinya lewat pos agar bisa tiba di tempatnya bekerja.
Aku sudah membuang ponselku agar mereka tidak mengejarku terus menerus. Pricilla menghela napas panjang. Ia hanya berharap setelah ini, perjalanan mereka lebih lancar agar setidaknya ia bisa sedikit lebih tenang.
...*...
Sepasang remaja, laki-laki dan perempuan, melangkah turun dari mobil yang mereka tumpangi. Atensi semua orang langsung tertuju pada keduanya saat mereka melangkah masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Wah, mereka siapa?"
"Yang satu tampan sekali, dan yang satu cantiknya luar biasa."
"Tampannya setara dengan Rei!"
"Aku iri dengan yang perempuan itu! Lihat tubuhnya. Arghh, dia memiliki tubuh yang begitu sempurna."
"Mereka siswa baru?"
"Aku harap salah satunya satu kelas denganku!"
"Aku ingin satu kelas dengan yang laki-laki."
"Yang perempuan itu pasti akan menjadi primadona kelas."
Bisikan demi bisikan mereka dengar dari sekeliling keduanya, namun keduanya menghiraukan semua suara yang mereka dengar dan terus melangkah menuju ruang guru dengan wali masing-masing yang selanjutnya akan mengurus kepindahan mereka.
...*...
Rei baru saja tiba di ruang kelasnya. Heru menghampiri lelaki yang menjadi teman sebangkunya itu dengan membawa berita untuk ia sampaikan padanya.
"Rei, kau di minta untuk datang ke ruang BK," ujarnya pada lelaki itu.
"Ruang BK? Ada apa? Apakah ini mengenai rumor kemarin?" Gloria tiba-tiba muncul bersama Lusia.
"Aku kira begitu. Kalau begitu aku pergi dulu." Rei beranjak dari tempatnya. Lusia menghentikan langkahnya, mencengkram pergelangan tangan Rei.
"Cepat kembali, dan ceritakan semua hasilnya nanti," gumamnya, beradu pandang dengannya.
"Aku akan secepatnya kembali." Rei tersenyum. Ia berlalu meninggalkan ruang kelasnya.
Tak selang beberapa menit, bel masuk berbunyi dan semua siswa-siswi yang ada bergegas masuk ke kelas masing-masing serta duduk di mejanya untuk memulai pelajaran.
Rei terus melangkah menuju ruang BK seperti panggilannya. Ia sempat bertemu dengan salah satu guru yang hendak mengajar jam pertama di kelasnya, dan ia sudah meminta izin untuk pergi sebentar karena memiliki urusan dengan salah satu guru BK di ruangannya.
Rei menghentikan langkahnya saat secara tidak sengaja kedua matanya menangkap sosok Marcell yang keluar dari ruang BK.
"Marcell?" Rei menatap lelaki yang menjadi orang terdekatnya itu.
"Aku sudah membantu sebisaku. Kau bisa selesaikan sisanya, kan?" ucapnya.
"Ya. Terima kasih sudah membantu."
"Bukan masalah. Kalau begitu, sampai jumpa."
"Sampai jumpa."
Marcell berlalu meninggalkan Rei seorang diri di sana.
...***...