Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 122 - Pak wakil direktur



...***...


Waktu berlalu. Matahari telah bergerak semakin menuju tengah. Hari sudah siang, dan Elvina baru saja selesai dengan pekerjaannya.


"Akhirnya selesai juga," gumam Elvina. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku sambil sesekali memijat bagian pundaknya yang terasa pegal akibat terlalu lama duduk dan menatap layar komputernya.


Pekerjaan yang harus Elvina selesaikan hari ini cukup banyak karena sialnya Leon terus saja meminta Elvina untuk mengubah laporan yang dibuatnya. Memintanya merevisi semuanya berulang kali agar sesuai dengan keinginannya.


Dan setelah berulang kali bolak-balik ke ruangan pria yang menjadi atasannya, pada akhirnya Elvina bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang setelah Leon terjebak dalam meeting penting dengan salah satu kliennya.


Tok! Tok!


Pintu ruangan Elvina di ketuk pelan. Fokus Elvina beralih ke arah datangnya suara dan mendapati Linda yang berdiri di ambang pintu masuk. Tak lama wanita itu bergerak masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Sudah waktunya jam istirahat, ayo kita pergi makan siang," ajak Linda seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Linda menghampiri Elvina yang terduduk di sana. "Ayo. Kebetulan aku juga sudah menyelesaikan pekerjaanku."


Elvina bangun dari tempat duduknya, membereskan meja kerjanya agar terlihat lebih rapi.


"Bagaimana kalau kita makan di luar? Aku bosan terus makan di kafetaria kantor."


"Ide yang bagus! Kebetulan aku butuh udara luar sekaligus butuh pemandangan lain untuk menjernihkan penglihatanku," ujar Elvina, setuju. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam tas dan meraihnya. Sekarang mereka siap untuk berangkat, sayangnya belum sempat mereka pergi—seseorang mendadak muncul dihadapan mereka.


"Elvina, pak wakil direktur ingin bertemu denganmu di ruangannya," ucap wanita yang tak lain adalah rekan kerja satu kantor mereka.



"Sekarang?" tanya Linda.


"Iya, Elvina di tunggu oleh beliau. Katanya penting."


"Huft~" Elvina menghela napasnya panjang, ia yakin kalau ada yang tidak beres. Hatinya mengatakan kalau Leon akan membuat ulah lain untuk mengganggu ketenangannya bekerja di kantornya.


"Kalau begitu aku duluan teman-teman, waktu istirahat harus aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya, sampai jumpa." Wanita itu beranjak pergi meninggalkan Elvina dan Linda berdua diruangannya.


"Si tukang perintah itu benar-benar menyebalkan. Lihat saja apa yang dia lakukan, dia benar-benar tidak memberikan aku ketenangan bekerja di sini!" Elvina menggerutu. Ia mendongak menatap sahabatnya dengan tatapan lesu.


"Bagaimana pun, dia adalah atasan kita," sahut Linda. Elvina menunduk sambil kembali menghela napasnya panjang.


"Kau benar," bisiknya.


"Maaf, Lin. Tapi sepertinya aku tidak akan bisa makan siang bersama denganmu hari ini. Tidak selama si tukang perintah itu terus menggangguku dengan pekerjaan yang ia berikan padaku. Sial! Dia memperlakukanku seakan-akan aku ini kuda yang mampu bekerja keras tanpa merasa lelah."


"Bukan masalah, kita bisa makan bersama di lain waktu. Lebih baik kau sekarang pergi dan temui pak wakil direktur sebelum dia emosi dan marah karena kau datang terlambat."


"Kau benar. Kalau begitu aku duluan." Elvina menaruh tas miliknya ke atas meja lalu pergi dari ruangannya untuk menemui Leon.


...***...