
...***...
"Kau menyebalkan! Dasar si tukang perintah yang menyebalkan! Kau selalu memaksakan kehendakmu tanpa pernah memperdulikan perasaanku!"
Leon terdiam sejenak, ucapan Elvina beberapa waktu lalu seketika terngiang dalam benaknya.
"Aku selalu memerintahmu melakukan hal yang tidak seharusnya kau lakukan, dan aku baru sadar kalau hal itu justru membuatmu semakin menjaga jarak denganku. Aku tidak ingin itu. Aku tidak ingin kau menjaga jarak denganku, dan aku tidak ingin membuatmu benci denganku. Karena…" Leon mengambil jeda sejenak.
"…Karena aku menyukaimu. Aku tidak ingin jauh darimu, maka dari itu aku pikir harus lebih baik padamu agar kau tidak terus menjaga jarak denganku. Aku ingin kau menjadi milikku. Maukah kau… menjadi kekasihku?"
Elvina menarik tangannya dari genggaman tangan Leon. Ia benar-benar tercengang dengan apa yang baru terlontar dari mulutnya.
"B… bapak bercanda, 'kan?" Elvina terbata.
Leon terkekeh pelan menanggapi reaksi dari Elvina barusan. "Apakah aku terlihat sedang bercanda denganmu?"
Elvina terdiam. Otaknya berusaha memproses setiap ucapan Leon barusan.
"Aku tahu kau terkejut. Aku tidak akan memintamu menjawab sekarang, akan kuberikan kau waktu untuk berpikir. Jadi tolong… pertimbangkan ucapanku," ujar Leon lembut.
...*...
"Lusia!" Gloria melambaikan tangannya ke arah gadis yang baru saja tiba di dalam ruang kafetaria itu.
Lusia berjalan menghampiri sahabatnya yang tengah duduk bersama Heru di dekat salah satu meja di belakang itu.
"Kenapa kau makan di sini?" Lusia menaikkan sebelah alisnya bingung saat mendapati Heru duduk berhadapan dengan Gloria, padahal seingatnya lelaki itu jarang duduk dengannya.
"Aku yang mengajaknya duduk di sini, sudahlah ayo duduk," kata Gloria.
Lusia mengambil duduk berseberangan dengan Gloria. Gadis itu menaruh nampannya ke atas meja.
Baru saja Lusia mendaratkan bokongnya di kursi duduk, tiba-tiba Rei datang dan menaruh nampan miliknya ke atas meja.
"Bolehkah aku bergabung?" ujarnya membuat semua orang seketika beralih fokus padanya.
"Tentu saja, duduklah." Gloria memotong ucapan Lusia cepat.
"Terima kasih." Rei duduk di kursi kosong yang ada di samping Heru.
Lusia melongok menatap sahabatnya, sudah jelas-jelas dirinya tidak suka jika harus duduk satu meja dengan Rei. Tapi dia malah mengizinkannya untuk duduk di sana.
"Kenapa kau…"
"Sssttt… sudah, diamlah. Lagipula Heru juga duduk di sini."
"Tapi kau tahu kalau aku tidak nyaman duduk dengannya, 'kan?" Lusia berbisik dengannya.
"Kenapa kau harus merasa tidak nyaman kalau kau memang sudah tidak memiliki perasaan dengannya?"
Lusia mendadak diam, mati kutu dengan ucapan sahabatnya.
Lusia mengalihkan perhatiannya pada makanan dihadapannya, begitu juga dengan Gloria dan Heru. Namun beda halnya dengan Rei yang kini memperhatikan Lusia yang duduk berhadapan dengannya.
Rei memperhatikan gerak-gerik Lusia yang kini menunduk, ia tampak enggan untuk beradu tatap dengannya.
"Sepertinya kau tidak nyaman dengan keberadaanku di sini. Lebih baik aku duduk di tempat lain." Rei baru saja bangun, tapi Gloria cepat-cepat menahan langkahnya.
Lusia dan Heru mendongak menatapnya yang baru saja hendak pergi.
"Tidak, jangan! Kau tidak perlu pergi. Jangan salah paham, Lusia hanya sedang memiliki hari yang kurang menyenangkan." Tahan Gloria cepat.
"Tapi…"
"Duduklah lagi, hiraukan saja dia," katanya. Lusia kembali menoleh pada Gloria dengan raut wajah terkejut.
Rei kembali duduk di kursinya semula.
...***...