Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 738 - Mesin pengontrol



...***...


"REI!" Elvina dan William spontan berlari ke arah lelaki itu begitu mereka melihatnya. Keduanya langsung memeluknya erat sambil menangis.


Sementara Lucy segera dihampiri oleh Aland dan Amanda yang sudah lebih baik. "Aku lega kau selamat..." gumam Aland sambil memeluknya.


"Aku juga lega kalian bisa bertahan..."


Lucy tersenyum seraya memeluk kedua rekannya. Amanda sama sekali tak banyak bicara, dia hanya tersenyum sambil memeluknya.


"Kau baik-baik saja kan? Bagaimana dengan traumamu? Bagaimana kau bisa mengatasinya? Aku cemas begitu mendengar suara ledakan. Aku takut kau terluka, dan aku juga takut kalau sampai traumamu kembali."


"Aku baik-baik saja. Untungnya, Rei tahu apa yang harus dia lakukan untuk menolongku."


"Sungguh? Syukurlah..." Aland tersenyum.


"Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sampai ada ledakan?" tanya Amanda. Pertanyaan wanita itu spontan membuat semua orang menoleh ke arah mereka. Pertanyaan sama yang sebenarnya ingin mereka tanyakan.


"Intinya ada tabung yang meledak, dan tabung itu berisi orang yang dicintai Rei..." Lucy menoleh ke arah lelaki yang mendadak berubah murung itu.


"Maksudmu Lusia?" Elvina dan William membelalakkan mata mendengar apa yang baru saja mereka dengar. Rei hanya menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Itu artinya dia..."


Untuk sesaat hening. Semua orang menatap Rei dengan raut wajah murung. Di sisi lain, Dorothy justru berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya Lusia yang sedang mereka bicarakan.


Lusia? Apakah jangan-jangan... Lusia yang mereka bicarakan adalah Lusia yang juga aku kenal? Dorothy membatin.


"Ah, sudahlah. Yang terpenting sekarang adalah kita harus bisa menyelesaikan semuanya malam ini juga. Kita harus bisa menangkap profesor!" Rei mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin bicara lebih banyak mengenai apa yang terjadi.


"Belum. Dia lebih dulu kabur."


"Bagaimana dengan tuan?" tanya Joe dengan raut wajah penasaran.


"Dia juga belum bisa kita kalahkan. Tadi saat aku dan dia sedang bertengkar, dia berhasil mendorongku jatuh. Dan sepertinya saat ledakan itu terjadi, dia juga sempat jatuh. Tapi aku tidak tahu dia jatuh di mana," kata Dorothy.


"Itu artinya... Semua ini belum berakhir?" Elvina menatap ke arah mereka bertiga secara bergantian.


"Belum. Sama sekali belum." Rei menggelengkan kepalanya pelan.



...*...


"Sekarang kau harus mengikuti setiap perintahku." Martin menatap lurus wanita yang kini berdiri tepat dihadapannya.


"Perintah profesor adalah tugasku."


"Gunakan kekuatanmu untuk mengendalikan semua evolver yang ada dan buat mereka berada di pihak kita."


"Baik, laksanakan." Lusia memejamkan kedua matanya. Ia memfokuskan seluruh energinya pada satu titik di keningnya. Tak lama, tubuh wanita itu melayang di udara dan sebuah tanda perlahan muncul di keningnya dengan cahaya menyala yang menandakan kekuatannya aktif. Kedua tangannya terangkat di udara, dan bersamaan dengan matanya yang ikut bersinar, Lusia mengirimkan sebuah sinyal perintah yang dalam sekejap mengontrol seluruh evolver yang ada di muka bumi.


Bukan hanya mengontrol, wanita itu bahkan membuat para evolver yang telah mati dan hancur kembali ke bentuk semula serta bersatu menjadi bagian dari kelompoknya. Martin yang berdiri di sana hanya bisa tersenyum sambil mendongak memandangi sosok wanita yang tak lain adalah pelindung barunya itu. Kali ini tidak ada lagi yang bisa menghentikannya atau bahkan melawannya. Dia memiliki Lusia, mesin pengontrol terkuat miliknya.


...***...