Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 118 - Rumah



...***...


"Maaf Rei, tapi sepertinya akan lebih baik kalau kau, kami antarkan pulang hari ini juga." Elvina membuka percakapan setelah beberapa saat terdiam dengan suara dentingan sendok dan garpu yang beradu. "Bukannya apa-apa, tapi kami hanya takut kalau kejadian kemarin terulang kembali. Jadi untuk keselamatanmu, akan lebih baik kalau kami mengantarkanmu pulang."


Rei terdiam mendengar ucapan Elvina. "Pulang?" Ulangnya, yang diangguki oleh Elvina.


"Jujur saja sebenarnya kami tidak ingin mengambil keputusan ini, tapi sepertinya, ini yang terbaik agar kau tetap aman. Setidaknya dengan kau berada di rumah, kau bisa memiliki seseorang untuk diajak bicara selama kami pergi dan ada juga orang yang menjagamu."


"Baiklah kalau memang seperti itu."


"Kau tidak marah, 'kan?" Elvina memastikan.


"Marah? Untuk apa?" Rei menaikkan sebelah alisnya bingung.


"Tidak, tidak ada." Elvina menggeleng pelan. Ia memutuskan untuk tidak memperpanjang hal ini. Setidaknya Rei mau mengerti dan setuju untuk kembali ke rumahnya. "Kalau begitu selesai makan, kau langsung bersiap. Setelah itu kita pergi."


"Oke," sahutnya. Elvina dan Rei kembali pada sarapan masing-masing, sementara itu William hanya diam tak bersuara dengan raut wajah murung. Ia masih kesulitan untuk menerima keputusan yang mereka ambil untuk mengantarkan Rei pulang.



...*...


Rei menghentikan laju motornya di depan sebuah bangunan besar nan megah di sana. Elvina dan William melangkah keluar dari dalam taksi yang mereka tumpangi dan membayar dengan beberapa uang lembar.


Rei turun dari motornya. Ia terdiam di samping Elvina dan William, matanya memandang ke arah bangunan besar yang tak lain adalah rumahnya. Entah kenapa ada reaksi aneh terhadap dirinya ketika melihat bangunan dihadapannya. Hatinya terasa sakit seakan di sayat dengan belati tajam yang goresannya begitu dalam.


Ada apa ini? Kenapa hatiku terasa sakit saat melihat tempat ini? Rei memegangi dadanya, ia berusaha mengatur sirkulasi oksigennya. Mengatur napasnya agar tetap tenang walau rasa sakitnya semakin menjadi-jadi.


"Ayo kita masuk," ucap Elvina. Rei mengangguk pelan, dengan langkah yang tiba-tiba terasa berat, ia berjalan mengekor di belakang Elvina dan William.


Elvina menekan pintu depan bel rumahnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu terbuka menampakkan seorang wanita paruh baya yang merupakan asisten rumah tangga di rumah itu.


Wanita itu cukup terkejut dengan kedatangan Elvina yang datang bersama dengan anak majikannya yang telah hilang setahun lamanya. Ia bahkan tampak begitu bahagia saat tahu Rei masih hidup.


Wanita itu memeluknya spontan seraya menangis, sedangkan Rei yang di peluknya hanya diam dengan raut wajah bingung.


"Akhirnya tuan muda kembali, bibi benar-benar mencemaskan tuan. Kemana saja tuan selama ini?" Wanita itu melerai pelukannya. Ia mendongak menatap Rei yang justru tampak bingung harus bereaksi bagaimana.


"Bi, pertanyaannya nanti saja. Apa Tante Isyana nya ada?" Elvina bergegas mengalihkan topik.


"Nyonya? Ada, beliau ada di dalam. Kalau begitu silahkan masuk, biar bibi panggilkan dulu." Ia bergegas melangkah masuk ke dalam rumah dengan William, Elvina dan Rei di belakangnya.


"Yang barusan itu adalah asisten rumah tangga di rumahmu ini, namanya bi Ella," jelas Elvina pada Rei. Lelaki itu hanya mengangguk pelan menanggapi penjelasan Elvina barusan.


...***...