Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 210 - Kertas



...***...


Entah kenapa. Rei sangat yakin kalau mimpi yang dialaminya bukanlah mimpi biasa.


Mimpi yang kemarin Rei alami, diyakininya sama seperti mimpi yang selama ini berulang ketika ia tidur.


Rei terus membuka lembar perlembar buku dalam bukunya sampai ia tiba di satu bagian buku yang lepas.


Rei tidak sengaja melihat dua lembar kertas yang menyatu. Di lepas dari bagian tengah buku, terselip di antara catatan yang kini di genggamnya.



Rei meraih lembar kertas itu. Di sana tertulis sesuatu yang aneh, seperti sebuah biodata atau data diri dari seseorang.


Rei menghiraukannya sejenak. Ia menyampingkan kertas itu dan menaruhnya di meja.


Matanya kini tertuju pada halaman kertas yang semula hendak dibacanya.


Rei membaca setiap kalimat yang tertera di sana. Ada satu bagian yang paling menyita perhatiannya. Ia kembali membaca kalimat itu.


"JM adalah metode menciptakan teman imajiner." Ulangnya.


Rei diam dalam lamunannya. Halaman yang dibacanya itu menjelaskan mengenai sebuah metode menciptakan teman imajiner, yang di sebut dengan JM atau singkatan dari Jessica Method.


Ia tidak mengerti kenapa dirinya menulis mengenai hal-hal yang terkesan unik dan jarang sekali orang-orang ketahui.


Dari buku-buku yang telah dibacanya. Rei lebih sering menemukan tentang catatan riset seperti mengenai sejarah, astronomi, psikologi, dan hal-hal yang berhubungan dengan supranatural. Lalu sebagian lainnya berisi mengenai catatan hariannya.


Rei beralih melirik kertas yang lepas dari bukunya. Ia menatap kertas itu dan membolak-balikkannya. Tulisannya memenuhi empat halaman kertas tersebut.


Dari tulisan yang tertera di sana, Rei tidak salah melihat kalau itu adalah sebuah biodata dari seseorang. Entah siapa, tapi yang pasti bukan dirinya karena di sana tertulis nama orang lain.


Atensi Rei, mendadak tersita saat sudut matanya melihat setitik cahaya yang bersinar di sampingnya.


Titik cahaya itu bermunculan semakin banyak, berkumpul menjadi satu hingga menjadi sebuah cahaya yang begitu terang.


Rei menoleh. Ia membulatkan matanya melihat apa yang sedang terjadi dihadapannya.


Perlahan. Cahaya itu menampakkan sesuatu, sebuah wujud yang tinggi berdiri dihadapannya.


Semakin jelas, dan sosoknya mulai terlihat dihadapannya.


Alangkah terkejutnya Rei, saat melihat titik-titik cahaya itu berubah menjadi seorang pria yang berdiri tegak dihadapannya.


Rei nyaris terjatuh dari kursinya saking terkejutnya dengan apa yang dilihatnya.


Pria itu… Rei melongok. Kulit putih yang nyaris serupa dengan rambutnya, iris mata berwarna biru, garis rahang yang tegas, dan postur tubuh yang tingginya sama dengannya.


D… dia, bukankah dia yang ada dalam mimpiku kemarin? batin Rei. Pria dihadapannya adalah pria yang sama yang ia temui dalam mimpinya.


Wujudnya kini terlihat dengan begitu jelas dihadapan Rei. Ia memandangnya intens, kemudian secara perlahan sebuah senyuman terukir diwajahnya yang tampan.


"Tuan…" Suara itu kembali di dengar oleh Rei dengan begitu jelas.


Pria itu berjalan menghampiri Rei yang kini spontan melompat bangun dari kursi tempatnya terhenyak duduk di dekat meja belajarnya.


Mereka beradu pandang untuk waktu yang sesingkat sebelum kemudian pria itu memeluk Rei.


Rei tercekat. Pelukan pria itu benar-benar pelukan yang ia rasakan dalam mimpinya, namun kali ini terasa benar-benar nyata. Lebih nyata dari sebelumnya saat ia memeluknya dalam mimpi.


...***...