
...***...
Ceklek!
Pintu terbuka, atensi Lucy beralih pada pria yang baru saja tiba.
"Aku, kau dari mana?" tanya Lucy padanya.
"Aku baru saja hendak mencari udara segar, tapi banyak hal yang terjadi."
"Maksudku?"
"Look!" Aland memperlihatkan pakaiannya yang basah. "Seorang pegawai hotel yang membawa makanan untuk tamu di kamar sebelah secara tak sengaja menumpahkan minumannya padaku. Aku mau tidak mau jadi harus ganti pakaian."
Aland beranjak menghampiri koper dan mengambil pakaian miliknya di dalam sana.
"Sudah aku bilang lebih baik kita turun bersama." Lucy melanjutkan kegiatannya menyisir rambutnya. Ia baru saja selesai mandi dan hendak pergi mencari makanan yang sarapan mereka.
"Omong-omong apakah kau sudah mendapatkan kabar baru dari Ethan?" tanya Aland sembari melirik pada Lucy yang duduk disana.
"Belum, dia sama sekali belum mengabariku."
"Begitu rupanya. Sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Untuk sementara waktu, ayo cari petunjuk sekaligus menunggu informasi dari Ethan."
"Baiklah, terserah kau saja. Lagipula kau adalah ketuanya." Aland memasukkan tangannya dan mengancingkan kemeja yang ia kenakan.
"Ayo pergi cari sarapan. Aku sudah lapar."
"Ya, ayo." Aland berjalan mengikuti Lucy. Mereka melangkah keluar dari dalam kamar hotel mereka, berjalan menyusuri koridor hotel hingga tiba di lobi.
Mereka memutuskan untuk makan di restoran yang letaknya tak terlalu jauh dari hotel mereka.
Keduanya duduk di salah satu meja dan mulai menikmati sarapan masing-masing, sesekali mereka mengobrol membicarakan mengenai misi dan target mereka yang sampai saat ini belum berhasil mereka temukan jejaknya.
"Kita sudah jauh-jauh datang ke Indonesia. Tapi yang terjadi, kita justru kehilangan jejaknya disini," gumam Lucy yang kemudian melahap makanannya.
"Jangan menyalahkan dirimu, bagaimanapun aku juga salah," sahut Lucy.
Fokus Lucy beralih menatap keluar jendela tempat mereka duduk. Memandang orang yang berlalu-lalang di sekitar restoran tempat mereka menghabiskan sarapan mereka.
Lucy diam termangu, pikirannya mendadak melayang. Menerawang jauh menuju ingatan terdalamnya.
...*...
Sungai Seine, Paris, Prancis, delapan belas tahun yang lalu.
Januari 2002
Langit semakin berubah jingga menandakan kalau malam sebentar lagi tiba.
Udara dingin di sepanjang Paris tak membuat mereka terganggu, apalagi mengurungkan niatnya untuk menikmati hari terakhir kebersamaan mereka di Paris.
Theodore, pria Prancis berwajah tampan dengan dihiasi kacamata itu, menghentikan laju mobilnya di jembatan Pont de la Concorde. Salah satu jembatan di Prancis yang memiliki gaya arsitektur yang indah.
Ia melangkah keluar dari dalam mobil bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Sungai Seine akhirnya akan menjadi penutup dari kebersamaan mereka di hari terakhir ini.
Mereka menghampiri tepi jembatan. Berdiri menghadap ke barat. Menyaksikan matahari yang terus condong, dan akan segera berganti peran dengan gelapnya langit malam.
Mereka berdiri terpaku, menatap aliran sungai Seine yang suhu udaranya amat dingin.
Sementara pada orang tua berdiri menatap pemandangan sore, beda halnya dengan sepasang anak kecil yang kini berlarian di jembatan.
Keduanya terlihat sangat ceria, nampak jelas bahwa kesedihan yang semula menyelimuti mereka telah sirna begitu mereka tiba disana.
Beberapa saat yang lalu, mereka sempat menangis bersama karena lagi-lagi harus berpisah.
...***...