
...***...
"Uhuk… uhuk…" Lusia terbatuk. Ia mengeluarkan seluruh air yang sempat ditelannya.
Rei menepuk-nepuk kembali wajahnya ketika akhirnya ia mulai merespon.
"Lusia!" panggil Rei. Kedua mata gadis itu mulai terbuka secara perlahan, tatapannya sayu dengan pandangan yang kabur.
Lusia menatap Rei, sejenak mengabur sebelum akhirnya ia mengerjap dan pandangannya jelas.
"Syukurlah kau sadarkan diri." Rei tersenyum simpul, ia merasa lebih lega setelah melihat Lusia yang akhirnya membuka mata.
Gloria segera menghampiri sahabatnya, ia membantunya untuk bangun dan menutupi tubuhnya dengan handuk.
"Kau membuatku cemas!" Gloria menatapnya panik.
"Aku tidak apa-apa," lirih Lusia.
"Kau tetap saja membuatku takut!"
"Maaf."
"Ayo, biar aku antarkan kau ke UKS untuk beristirahat." Rei mengulurkan tangannya. Ia baru saja hendak menggendong tubuh rampingnya.
"Aku tidak apa-apa." Lusia menolak.
"Tidak apa-apa bagaimana! Kau menelan cukup banyak air. Ayo Rei, bawa saja dia ke UKS." Gloria beralih fokus pada lelaki itu.
Rei mengangkat tubuh Lusia dan menggendongnya menuju ruang UKS. Beruntung letaknya tak jauh, hanya terhalang oleh beberapa ruangan dan lapangan belakang.
Semua orang sedang fokus pada pelajaran mereka, jadi Rei bisa dengan leluasa menggendong Lusia menuju UKS.
Tiba di sana, tidak ada siapapun. Dokter jaga yang seharusnya duduk di tempatnya, sepertinya sedang pergi ke toilet.
Rei segera mendudukkan Lusia di kursi yang ada, sementara Gloria yang sejak tadi mengikutinya segera memberikan seragam untuk baju gantinya.
Rei segera pergi dari sana, sedang Gloria segera menutup tirai dan membantu sahabatnya berganti pakaian.
...*...
Hari Minggu. Leon datang seperti apa yang ia janjikan, menjemput Elvina di rumahnya guna menghabiskan waktu bersama selama satu hari hanya agar mereka bisa saling kenal lebih dekat satu sama lain.
Leon terduduk di ruang tengah bersama dengan William. Mereka mengobrol bersama selama beberapa saat dengan ditemani secangkir minuman dan beberapa camilan yang di suguhkan Elvina selama menunggu.
William, dengan segala tingkah usilnya. Mengajak Leon yang notabenenya payah dalam bermain video game untuk memainkan sebuah game yang ia kuasai.
Leon, sudah lebih dari sepuluh kali dirinya dikalahkan oleh William dalam game yang mereka mainkan.
"Yeay! Kau kalah lagi!" William bersorak ria saat melihat Leon bisa dengan mudah ia kalahkan.
Leon hanya bisa menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya kasar. Lagi-lagi ia kalah dalam bermain game oleh bocah kelas tiga SMP, sungguh memalukan. Namun walaupun begitu, setidaknya Leon senang melihat William yang terlihat begitu gembira.
Apakah ini rasanya memiliki adik? pikir Leon yang kini beralih dari layar LED besar dihadapannya, ia memandangi William yang mulai menari-nari dihadapannya guna melakukan selebrasi atas kemenangannya.
Elvina melangkah menuruni tangga, ia terdiam sejenak saat mendengar William begitu heboh di bawah sana.
Dia selalu saja seperti itu, pikirnya sembari menggeleng pelan. Tak lama ia kembali melanjutkan langkahnya hingga tiba di ruang tamu.
Kedatangan Elvina di ruang tamu membuat perhatian William lebih dulu tersita. Lelaki itu spontan berhenti melakukan selebrasinya ketika kakaknya tiba di sana.
"Huh? El!" Lelaki itu diam memandangi kakaknya.
Leon yang mendengar William menyebutkan nama kakaknya refleks menoleh ke arah yang ia tatap. Leon terdiam memandanginya.
...***...