Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 320 - Pencuri?



...***...


Dua tahun berikutnya.


2019


Setelah lulus, Rei melanjutkan sekolah ke SMA. Berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Rei malah harus terjebak dalam kelas dan sekolah yang sama dengan Lionel.


Di sini, permulaan semuanya berawal. Lelaki itu mulai menjadi tukang gosip dan penyebar berita yang mencap Rei sebagai seorang pria penyuka sesama jenis.


Hal itu menjadi bahan lelucon teman-teman lelakinya di kelas dan tak jarang, mereka melakukan tindakan bullying secara verbal.



...*...


Jakarta, Indonesia, saat ini.


2020


Rei membuka kedua matanya saat setiap kejadian itu berhenti bermunculan dalam benaknya. Air matanya tanpa sadar sejak tadi menggenang membasahi kedua pipinya.


Ia beradu tatap dengan Louis yang kini membuka kedua matanya dan menjauhkan kartu di tangannya dari Rei.


Louis menghilangkan kartu itu, yang dalam sekejap lenyap menjadi abu dan hilang bersama hembusan angin.


"A… apa itu tadi? Apakah semua itu adalah hal yang aku lalui di masa lalu?"


"Aku tahu ini menyakiti tuan. Namun aku benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Hanya ini cara satu-satunya agar mereka semua di hukum atas apa yang mereka perbuat." Louis berucap lirih.


Tangan Rei gemetar, air matanya masih membasahi kedua pelupuk matanya. Jantungnya mulai menderu dengan emosinya yang kini meluap-luap. Setiap emosi dalam dirinya seketika bercampur menjadi satu.


Apa yang telah mereka lakukan tidak bisa di biarkan begitu saja. Aku, harus membuat mereka membayar atas setiap tindakan mereka. Rei mengepalkan kedua tangannya erat.


...*...


Pukul sebelas malam. Pricilla berada di ruang dapur untuk mengambil segelas susu, berharap ia bisa tidur setelahnya dan menghilangkan insomnia yang mendadak datang menghampirinya itu.


Tukk!


Pricilla menaruh gelas dalam genggamannya ke atas meja di ruang dapur.


"Kalau kau ikut denganku, maka aku akan bisa melindungimu dari mereka dan menyelamatkan nyawamu!"


Kalimat dari Derek terus terngiang dalam benaknya. Menghantui setiap detiknya dalam keheningan malamnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus ikut dengannya pergi ke Oslo dan meninggalkan segala yang aku miliki di Jakarta?"


"Tapi bagaimana dengan mama dan papa? Bagaimana dengan karirku sebagai dokter? Mana mungkin aku meninggalkan semua ini sementara aku sedang dalam masa jayanya?"


"Apa yang haru aku lakukan?"


Pricilla mengacak-acak rambutnya frustasi. Setiap pertanyaan yang muncul di otaknya sama sekali tidak bisa ia jawab. Pricilla benar-benar bingung harus bagaimana, apalagi siswa waktu yang ia miliki hanya tinggal tersisa beberapa belas jam lagi sebelum akhirnya Derek memutuskan untuk berangkat ke Oslo hari berikutnya.


Brakk!


Suara nyaring memecah keheningan malam. Pricilla tersentak kaget saat ia mendengar suara itu berasal dari garasi rumahnya.


"Apa itu?" Pricilla terdiam sejenak, dan ia kembali mendengar suara yang serupa.


Suaranya berasal dari garasi, apakah jangan-jangan ada pencuri yang berusaha mencuri mobilku? Gawat! Ada dua mobilku yang lain, aku tidak boleh membiarkan ini! pikirnya yang bergegas berjalan menuju pintu yang terhubung dengan garasi rumahnya.


Pricilla mengambil tongkat yang cukup untuk ia jadikan sebagai senjata. Ia melangkah.


...***...