
...***...
Bel pintu depan menyita perhatiannya. Rei baru saja hendak bangun dan mengecek siapa yang datang, bi Ella lebih dulu menahannya untuk pergi.
"Biar bibi saja," ujarnya cepat. Wanita paruh baya itu segera pergi menghampiri pintu depan dan mempersilahkannya masuk.
Rei dapat mendengar perbincangan Ella bersama dengan beberapa orang dengan begitu jelas. Tak lama, Rei bisa merasakan aura tubuh semua orang yang datang itu masuk dan menghampiri ruangan tempatnya berada.
"Rei…" Suara itu di dengarnya.
Rei menoleh ke arah datangnya suara, seorang wanita dewasa berdiri ditempatnya bersama dengan beberapa orang lain yang datang bersamanya.
Wanita itu bergegas menghampiri Rei. Rei spontan bangun begitu melihat wanita itu berdiri dihadapannya dengan mata yang berkaca-kaca. Sejurus kemudian wanita itu memeluknya erat seraya menangis tersedu-sedu.
"Akhirnya adikku yang paling tampan ini pulang. Kau tahu? Aku benar-benar mencemaskanmu. Kemana saja kau selama ini? Kenapa kau baru kembali?" Wanita itu—Stephanie Adhitama mengeratkan pelukannya pada Rei.
Rei lagi-lagi hanya bisa terdiam seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Kali ini, pelukan Stephanie terasa berbeda dari pelukan Isyana atau Shella.
Rei memang merasakan sengatan listrik pada sentuhan pertama mereka, namun begitu berpelukan dengan Stephanie, ia merasa ingin menangis. Selain itu, sensasinya sama seperti ketika pertama kali ia bertemu dengan Elvina dan William. Pelukannya sama seperti ketika ia berpelukan dengan mereka.
Stephanie melerai pelukannya, ia menatap adiknya itu dari atas sampai bawah guna memastikan dia benar-benar Rei yang dikenalnya.
"Kau baik-baik saja kan? Apakah ada yang lecet? Aku benar-benar senang saat mama bilang Elvina mengantarkanmu pulang," tuturnya.
Rei tak menjawab dan hanya menatapnya tanpa kata. Ia bingung harus bagaimana menanggapi perkataannya, terlebih memorinya yang sama sekali raib tentang mereka membuatnya merasa canggung.
"Kalian sudah datang?" Isyana tiba di ruang makan dengan Shella yang telah berganti pakaian.
"Mama…" Stephanie menatap ibunya.
"Ayo duduk, biar mama jelaskan semuanya nanti," ucap Isyana. Tak selang berapa menit, beberapa orang lain datang dan menemui mereka.
Rei, lagi-lagi dipeluk oleh beberapa orang yang sama sekali asing baginya. Ia benar-benar tidak tahu siapa mereka semua, dan berbagai pertanyaan terus bermunculan dibenaknya.
Setelah semuanya berkumpul, Isyana meminta seluruh anggota keluarganya untuk duduk di meja makan guna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Isyana menjelaskan semua yang dialami oleh Rei, dari awal hingga akhir. Ia menjelaskan setiap detail yang diceritakan Elvina padanya pagi tadi. Semua orang tampak terkejut mendengar penjelasan darinya.
Rei hanya bisa terdiam. Tampaknya sekarang diam sudah menjadi kebiasaannya.
"Kami akan membantumu mengingat semuanya kembali. Kau tenang saja." Stephanie menggenggam tangannya sambil tersenyum. Rei hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Nah, aku ini kakak pertamamu. Namaku Stephanie, aku sudah menikah. Ini kedua anakku, ini suamiku, dan ini adalah mertuaku. Kau sudah memiliki dua keponakan." Stephanie memperkenalkan satu persatu orang yang tadi datang bersama dengannya.
Seorang wanita gemuk paruh baya yang tak lain merupakan mertuanya, lalu lelaki jangkung yang duduk bersama dengan anak perempuan di dekat Shella adalah anak pertamanya, sedangkan anak keduanya laki-laki, dan ia perkirakan baru berumur satu tahun.
...***...