
...***...
Samuel membulatkan matanya melihat hasil tes DNA yang di bawa Sandy.
"Jadi selama ini dia berpura-pura?" Samuel terlihat kesal. Ia bangun dari posisinya semula.
"Apa maksudmu? Kembalikan itu pada papa!" Sandy menarik paksa kertas yang di genggam putra keduanya itu.
"Kau tidak perlu ikut campur dalam hal ini! Dan satu hal lagi, jangan sampai orang lain tahu! Termasuk Rei, dan kakakmu Stephanie!" Sandy berlalu meninggalkan Samuel sendiri di ruang tengah.
Samuel terdiam masih berusaha mencerna apa yang dilihatnya. Ia tersenyum simpul lantas bergumam, "Jadi kau selama ini berupaya menipu kita semua?"
...*...
Leon senang bukan main. Setelah ia menginap untuk pertama kalinya di rumah Elvina, ia juga akhirnya bisa merasakan dan melihat Elvina selain di kantor.
Leon pagi-pagi sekali bisa melihat wajah Elvina yang begitu cantik, setelah itu menikmati makanan buatannya di atas meja yang sama dengannya, dan mengobrol beberapa hal dengannya. Rasanya seperti mimpi menjadi nyata ketika ia untuk pertama kalinya mengalami semua ini.
Leon jadi merasa seperti telah menjalani kehidupan rumah tangga bersama Elvina.
Pukul empat sore, pria itu baru beranjak pergi dari rumah Elvina setelah Zabrina—ibunya terus menelpon dan menanyai keberadaannya yang tidak pulang hingga semalaman dan membuatnya cemas.
"Baiklah, sepertinya aku harus pulang," pamit Leon pada Rei, Elvina dan William yang kini berdiri di hadapannya. Mengantarkannya hingga ke depan pintu sebelum akhirnya ia pergi dan berpisah dengan mereka.
"Iya, hati-hati di jalan." Elvina tersenyum simpul. Leon berdebar dibuatnya, setiap detiknya tanpa sadar ia terus dibuat jatuh cinta dengan sosok jelita wanita yang menjabat sebagai kepala keuangan di kantornya itu.
"Lain kali, berkunjunglah lagi. Kita bermain game bersama lagi, aku benar-benar tidak sabar untuk mengalahkan kakak dalam berbagai pertandingan." William terkekeh mengingat Leon yang ternyata payah dalam bermain game, berulang kali pria itu kalah olehnya dalam waktu singkat.
"Tampaknya kau sangat menikmati kekalahanku, haha. Tapi tidak apa-apa, aku bersedia kalah untukmu." Leon terkekeh pelan. Tak lama, perhatiannya beralih pada Rei yang berdiri di samping William.
"Terima kasih karena sudah mau meminjamkan pakaian untukku, dan berbagi kamar. Terima kasih juga karena sudah mau berbagi rahasia." Leon tersenyum simpul padanya. Rei hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Rahasia? Rahasia apa?" Elvina dan William menoleh serentak ke arah Rei, menatapnya dengan raut wajah penasaran.
"Rei, jangan beritahu mereka!" Leon memperingatkan. Rei hanya memberikan isyarat dengan tangannya. Tak lama, Leon beranjak memasuki mobilnya. Ia menyalakan mesin mobilnya, melambaikan tangan ke arah mereka bertiga sebelum kemudian pergi meninggalkan pekarangan rumah Elvina untuk pulang.
Elvina menghela napas lega setelah akhirnya si tukang perintah itu pergi dari rumahnya. Jujur saja, ada Leon di rumahnya satu hari saja sudah membuatnya nyaris terkena darah tinggi karena harus menghadapinya. Beruntung lelaki itu tak tinggal terlalu lama di rumahnya, jadi Elvina bebas dari pria menyebalkan itu.
"Akhirnya dia pergi juga. Aku benar-benar senang karena akhirnya dia pergi dari rumah," gumamnya pelan.
"Kau tidak suka dia tinggal disini?"
...***...