Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 221 - Tidak peka



...***...


Rei beranjak bangun dari tempat duduknya. Ia melangkah pergi meninggalkan kafetaria.


Di meja itu kini hanya tersisa Gloria dan Heru saja.


"Aku baru tahu kalau ternyata kalian dari SMP yang sama. Selain itu, aku juga baru tahu kalau Rei dan Lusia sempat terlibat dalam hubungan seperti itu," tutur Heru pelan.


"Ya, karena Lusia tidak ingin membahasnya. Dia masih kecewa karena Rei tidak pernah peka akan setiap kode yang ia berikan." Gloria menarik gelasnya dan meneguknya pelan.


"Aku tidak mengerti dengan para perempuan, kenapa suka bermain kode-kode? Kenapa tidak langsung ke intinya saja? Bukankah itu lebih simpel?" Heru melahap sendok terakhir makanannya.


"Aih, memangnya kau pikir itu mudah? Lagipula dari dulu, yang seharusnya menyatakan perasaannya lebih dulu itu laki-laki, bukan perempuan!"


"Memang apa bedanya? Kurasa sama saja. Toh, kalau kalian sama-sama suka akhirnya jadian juga 'kan?"


"Aih, kau tidak akan mengerti. Sudahlah aku malas memperpanjang hal ini." Gloria bangun. Meraih nampan makannya yang telah kosong.


"Kalian saja yang hidupnya terlalu rumit," bisik Heru seraya menyeruput minumannya.



...*...


"Arghh! Kenapa dia tiba-tiba menyebalkan seperti itu?!" Lusia menggerutu. Ia berjalan menyusuri koridor yang kini dihiasi beberapa orang siswa yang berlalu-lalang.


Lusia berencana menenangkan dirinya di taman. Biasanya di saat-saat seperti ini, taman adalah tempat yang cocok untuk menenangkan dirinya.


"Dia benar-benar tidak peka. Dia masih saja menyebalkannya seperti saat SMP dulu, bedanya kali ini lebih menyebalkan dan lebih tidak pengertian!"


Sepanjang jalan tadi, gadis itu terus menggerutu tanpa henti. Beberapa kali ia menghentakkan kakinya dengan raut wajah kesal sampai membuat beberapa orang siswa yang berlalu di dekatnya menoleh dengan tatapan heran.


Ia menghentikan langkahnya sejenak, "Dia memang memiliki wajah yang tampan, fisik yang sempurna dengan sifat yang juga sempurna, belum lagi otak yang cerdas dan jago dalam segala hal. Aku akui memang aku terpesona dengan segala hal tentangnya. Namun ketidakpekaannya membuatku jengah!"


Lusia menghela napas panjang, marah-marah seperti ini membuatnya lelah.


Perhatian Lusia yang tengah mengamuk sendiri di sana seketika tersita oleh sekelebat bayangan yang dilihatnya lewat sudut matanya.


Lusia tercekat. Ia menoleh spontan ke arah bayangan yang dilihatnya.


Apa itu tadi? Kenapa aku merasa kalau ada seseorang yang melintas dari arah sana? batin Lusia.


Gadis itu melangkah menghampiri asal bayangan yang di lihatnya. Tapi begitu tiba sudut dimana ia melihat bayangan itu, ia sama sekali tidak menemukan siapapun selain dirinya.


"Sepertinya hanya perasaanku saja. Lebih baik aku pergi menenangkan diriku, untungnya masih ada sisa jam istirahat." Lusia berbalik dan bergegas pergi menuju taman untuk menenangkan dirinya sebelum jam istirahat usai.


Di sisi lain, sosok yang sejak tadi memperhatikannya itu berdiri diantara kegelapan.


Ia terdiam menatap sosok Lusia yang terus berjalan menjauh dari tempatnya semula.


Mungkin ini adalah saat yang tepat untukku menangkapmu, pikirnya sambil tersenyum.


Pria itu bergerak. Berjalan menuju arah lain dari lorong yang di tempatinya.


Ia melangkah menuju arah dimana taman tempat Lusia kini berada, ia hendak menjalankan rencana yang telah di susunnya.


Tiba di taman, ia melihatnya.


...***...