
...***...
"Aku benar-benar penasaran dengan lelaki yang kau maksud, yang telah membuatmu celaka itu. Siapa sebenarnya dia?" Melinda melangkah turun dari kapal yang baru saja mengantarkan mereka hingga tiba di pelabuhan.
"Aku juga tidak tahu. Identitasnya tidak terdaftar di data laboratorium, tapi yang pasti dia sangat kuat. Kekuatannya benar-benar luar biasa, dan dia memiliki lebih dari satu kemampuan." Joe menjelaskan.
"Benarkah sehebat itu?"
"Ya. Selain itu, dia memiliki kekuatan pemulihan yang lebih cepat dari evolver seperti kita."
"Aku semakin penasaran dengan orangnya, bagaimana ciri-cirinya? Aku butuh ini agar aku mengenalinya dan lebih mudah bagiku untuk menangkapnya."
"Aku rasa tidak akan semudah yang kau bayangkan. Tapi akan aku beritahu ciri-cirinya. Dia seorang remaja, masih sangat muda tapi aku tidak yakin berapa usianya, dia memiliki wajah yang cukup tampan, kulit yang putih, rambut hitam pekat, garis rahang yang tegas, dan dia terlihat seperti memiliki darah campuran antara Asia dan Eropa." Joe menjelaskan secara spesifik. Melinda manggut-manggut menanggapi kalimatnya.
"Dia tampan? Aku jadi semakin penasaran." Melinda mengeluarkan smirk-nya. "Lalu sekarang, bagaimana kita bisa menemukannya sedangkan kita tidak tahu dimana dia berada."
Melinda menghentikan langkahnya, menatap Joe yang kini juga menghentikan langkahnya.
"Itu mudah. Kuncinya ada pada Elvina."
"Elvina? Maksudmu wanita dengan kemampuan medan gaya itu?" Melinda menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ya. Laki-laki itu akan datang di saat yang tepat ketika Elvina hampir celaka di tangan kita."
"Kenapa kau begitu yakin kalau kuncinya berada pada Elvina? Bagaimana kalau ternyata dia tidak datang dan usaha kita sia-sia?"
"Dia pasti akan datang."
"Benar-benar hari yang melelahkan, aku ingin segera pulang dan beristirahat." Linda berjalan beriringan dengan Elvina, keduanya melangkah menyusuri koridor agar bisa tiba di lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai dasar.
"Ya, kau benar. Aku juga sama lelahnya denganmu. Bahkan bahuku rasanya benar-benar pegal," tutur Elvina.
Keduanya berdiri di depan lift, menekan tombol yang ada dan menunggu sesaat hingga lift terbuka.
Elvina dan Linda hampir melangkah masuk. Keduanya berhenti secara bersamaan saat melihat Leon yang berdiri seorang diri di dalam sana.
Elvina dan Linda tertegun melihat bosnya itu berada di dalam sana.
Leon tersenyum simpul saat melihat Elvina, ia senang karena turun pada waktu yang tepat. Dengan begini, dirinya bisa turun ke lantai dasar bersama Elvina. Rencananya ternyata berjalan mulus.
Linda dan Elvina melangkah masuk ke dalam lift. Linda sedikit membungkuk sambil tersenyum memberi hormat pada Leon. Pria itu hanya balas dengan anggukan pelan.
Elvina berusaha menghiraukannya. Ia berdiri bersebelahan dengan Linda, tapi Leon tiba-tiba bergerak memisahkan mereka hingga membuat Elvina dan Linda berada di sisi kiri dan kanannya.
Aish, si tukang perintah ini benar-benar menyebalkan! gerutu Elvina dalam hatinya. Ia benar-benar kesal melihat tingkah Leon yang benar-benar menyebalkan seperti ini.
Elvina tidak tahu kenapa Leon bersikap begitu menyebalkan hari ini. Pintu lift tertutup, dan selanjutnya hening menyelimuti kebersamaan mereka.
Elvina terdiam, begitu juga dengan Linda yang berada di seberangnya. Mereka ingin sekali mengobrol, tapi Leon menghalangi mereka tepat di tengah-tengahnya.
Rasanya benar-benar canggung harus seperti ini dalam lift.
...***...