
...***...
Mereka berhenti di depan pintu. Dorothy sempat mengintip lewat jendela yang ada di pintu, memastikan apakah Cato sungguh ada di dalam sana atau tidak. Dan ternyata lelaki itu benar-benar ada di sana, dia sedang sibuk dengan proyeknya seorang diri. Sementara Miles dan Martin sama sekali tidak terlihat. Begitu juga dengan kedua putranya, Joe dan Derek. Dorothy terdiam sejenak. Dia pikir akan terlalu beresiko kalau dia mengajak masuk Tiana dan Rivanno.
"Kenapa kau diam, apakah dia ada di dalam?" bisik Tiana, membuyarkan lamunan sahabatnya.
"Aku pikir ini akan terlalu beresiko kalau aku mengajak kalian masuk, jadi aku sedang memikirkan cara. Lagipula aku tidak melihat anak-anakku. Di dalam juga aku sama sekali tidak melihat Miles dan Martin."
"Kalau begitu, sebaiknya kita bagi tugas. Kau temui suamimu, sementara aku dan Tiana akan mencari kedua anakmu." Rivanno mengusulkan.
"Ide bagus!" Tiana setuju. Dorothy menganggukkan kepalanya pelan. "Sepertinya idemu tidak buruk. Kalau begitu saat kalian menemukan kedua anakku, segera bawa mereka ke ruangan dimana mesin waktu itu berada. Dengan begitu kita bisa langsung pergi, okay?"
"Tapi bagaimana denganmu?" Tiana menatap Dorothy dengan raut wajah cemas.
"Aku akan baik-baik saja. Yang terpenting adalah bagaimana pun caranya kalian harus membantu mereka lolos. Aku bisa menjaga diri, dan aku juga pasti akan bisa pulang menyusul kalian."
"Baiklah, tapi berjanjilah kau akan baik-baik saja."
"Kalian juga. Aku mengandalkan kalian."
Dorothy akhirnya berpisah dengan Tiana dan Rivanno. Sementara dirinya masuk, beda halnya dengan Tiana dan Rivanno yang kini kembali berjalan mencari keberadaan Joe dan Derek yang entah ada dimana.
Fokus lelaki itu langsung beralih padanya yang tiba-tiba saja muncul dari pintu masuk. "Dorothy, sedang apa kau di sini?"
"Tentu saja aku kemari untuk mengambil anakku kembali, dimana mereka? Dimana kau sembunyikan Joe dan Derek, katakan padaku!"
"Untuk apa kau mencari mereka? Aku tidak akan mengizinkanmu menemui mereka. Bukankah kau ingin berpisah denganku? Lalu untuk apa kau ingin bertemu mereka?"
"Aku ini ibunya, dan aku berhak untuk menemui kedua anakku! Katakan padaku dimana dia sekarang? Apakah kau menyembunyikannya di tempat seperti ini? JOE! DEREK! KALIAN DIMANA SAYANG?" Dorothy berteriak sambil berjalan melewati lelaki itu. Cato berbalik sambil terus menatap wanita itu intens. "Mereka tidak di sini. Aku menyembunyikan mereka di tempat aman. Di tempat dimana kau tidak akan pernah bisa menemukan mereka."
"Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau ingin memisahkanku dari anak-anakku sendiri?"
"Jangan lupa kalau mereka juga adalah anakku!"
"Ya, itu dulu. Tapi sekarang tidak lagi. Tidak setelah kau memutuskan untuk bergabung dengan sindikat berbahaya ini. Aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengan anakku." Dorothy menghampiri Cato, beradu tatap dengan lelaki itu. Ekspresi wajahnya tampak tak bersahabat. Mereka mulai terlibat dalam sebuah perdebatan. Cato dan Dorothy sama-sama tidak ingin melepaskan anak-anak mereka. Keduanya ingin menjauhkan mereka dari satu sama lain.
Dorothy terus menekan Cato untuk memberikan mereka padanya, sementara Cato sama sekali tidak mau.
...***...