Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 394 - Theodore dan Caroline



...***...


"Aku kira kau pindah ke Amerika untuk bergabung dengan CIA dan mewujudkan cita-citamu jadi agen mata-mata, karena aku ingat betul kalau sejak kecil kau bermimpi ingin jadi seorang agen seperti film kartun yang dulu kau tonton. Apa nama filmnya?"


"Totally Spies!" kata Lucy.


"Ya, itu dia! Tapi melihatmu seperti ini, tidak buruk juga. Kau masih terlihat cantik."


"Lalu bagaimana denganmu? Aku kira kau juga akan menjadi seperti Arsène Lupin, mencuri dan mengembalikan harta curianmu itu pada orang-orang miskin."


"Cih, kau masih ingat saja hahaha." Leon terkekeh. Ia tidak menyangka kalau ternyata Lucy masih ingat dengan nama karakter fiksi kesukaannya.



"Tapi omong-omong melihatmu yang seperti tadi, berani akan melaporkanku pada polisi, sepertinya kau sudah benar-benar berubah menjadi seorang pria."


"Apa maksudmu, dari dulu aku memang seorang pria."


"Ya. Tapi dulu kau itu cengeng dan hanya bisa bersembunyi di belakang punggungku. Aku masih ingat saat dulu, kau di ganggu oleh anak-anak yang tinggal di sekitar taman dekat rumah nenek di Paris. Kau menangis karena mereka mengganggumu."


"Hahaha, ternyata kau masih ingat."


"Tentu saja aku ingat, karena aku datang dan membantumu. Aku yang melawan mereka dan mendorong mereka sampai lututku terluka."


"Dari dulu kau seperti laki-laki, kau selalu bisa melawan anak-anak yang menggangguku, bahkan kau selalu membuat mereka menangis ketakutan sambil berteriak memanggil ibunya. Ternyata kau masih sama seperti dulu, tadi saja bahkan kau nyaris membuat tulangku patah."


"Haha. Oh ya, omong-omong bagaimana kabar uncle Theodore dan aunty Caroline? Apakah mereka sehat? Sudah lama kita tidak merayakan Noël dan La Saint-Sylvestre bersama."


Lucy terdiam dengan wajah yang seketika berubah murung. Dengan suara amat pelan ia berkata, "mama, dan papa sudah meninggal."


"Apa?!" Leon membulatkan mata.


"Beberapa tahun yang lalu, mama dan papa kecelakaan saat mereka hendak merayakan anniversary pernikahan mereka. Tapi diperjalanan, mereka baru sadar kalau ada seseorang yang menaruh bom di dalam mobil yang mereka tumpangi. Mereka meninggal dalam ledakan tersebut. Mobil mereka jatuh ke danau, dan mereka tenggelam." Lucy berusaha menahan tangisnya. Bercerita yang sejujurnya seperti ini benar-benar terasa berat baginya. Terlebih cerita ini membuatnya harus mengingat kembali ingatan terburuknya. Kenangan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.


Leon terisak. Ia tak menyangka kalau paman dan bibinya akan mengalami kejadian yang begitu mengenaskan.


"Maaf karena aku tidak pernah menghubungi kalian, dan baru memberitahukan hal ini padamu. Setelah papa dan mama meninggal bertahun-tahun lamanya," lirih Lucy.


Tangis Leon tak bisa ditahannya. Paman dan bibinya adalah orang yang baik, yang selalu perhatian padanya dan bersikap lembut padanya. Bahkan mereka tak pernah marah saat dirinya selalu membuat kekacauan di seisi rumah saat ia dan keluarganya masih tinggal menetap di Paris.


Lucy mendongak dan melihat Leon yang menangis sendu. Lucy tahu Leon juga merasa kehilangan akan meninggalnya kedua orang tuanya.


Lucy bangkit dari duduknya, ia memeluk Leon yang kini menangis.


Lucy berusaha untuk menenangkan Leon.


Melihat Leon menangis seperti ini, dan aku berusaha untuk menenangkannya… semuanya terasa seperti aku kembali ke masa lalu, ucapnya dalam hati. Ia mengencangkan pelukannya.


...***...