Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 174 - Kepala sekolah



...***...


"Sudah aku bilang, seharusnya kau mengambil langkah lebih dulu. Kau harus berinisiatif lebih dulu, nyatakan perasaanmu padanya. Jangan terus menunggu, apalagi kak Rei itu tampan, pasti banyak sekali orang yang menyukainya. Sekarang ini bukan zamannya perempuan yang harus terus menunggu laki-laki menyatakan perasaannya! Dan lihat sekarang, karena aku tidak mau mendengarkan saran dariku, kau jadi harus terjebak bersama Fandy yang posesifnya luar biasa."


"Diam, Gloria! Jangan membuatku marah!" bentak Lusia kesal. Gloria tersentak dibuatnya. "Aku tidak ingin membahas tentangnya!"


"Ck, dasar kau itu memang tidak pernah mau mendengarkan saran dariku. Selain itu, sekarang aku mengerti kenapa kak Rei tidak suka denganmu dan bahkan tidak pernah melirikmu sama sekali. Itu karena sifatmu yang pemarah dan tidak pernah mau mendengarkan saran dariku, padahal aku ini sahabatmu."


"Terserah kau saja! Aku tidak ingin berdebat di sini. Lebih baik aku pergi menemui kepala sekolah untuk protes." Lusia melenggang meninggalkan Gloria.


"Hey! Kau gila? Kau ingin menghadap kepala sekolah??" Gloria tercengang mendengar ucapan sahabatnya itu. Lusia tak mengindahkan ucapannya dan memilih terus melangkah hingga sosoknya menghilang diantara orang-orang di sana.


"Sepertinya salah satu baut di otaknya mulai lepas, dia bahkan nekat ingin menemui kepala sekolah untuk protes hanya karena tidak di tempatkan di kelas yang sama denganku. Oh astaga, aku benar-benar tidak habis pikir dengannya." Gloria memonolog. Ia menggelengkan kepalanya pelan, tak lama fokusnya lantas beralih pada kertas yang berada dalam genggamannya.


"Lagipula kalaupun dia pindah ke kelasku, siapa yang harus bertukar tempat dengannya?" Gloria memperhatikan daftar nama yang tertulis di sana. Ia terbelalak saat melihat satu nama yang familiar baginya.


"I… ini, tidak mungkin orang yang aku kenal, 'kan?" Gloria mendekatkan kertas di tangannya lebih dekat dengan matanya dan mengeja ulang setiap huruf yang tertera di sana.


"I… ini…" Gloria merekahkan senyum secara perlahan. "Ini benar-benar dia! Lebih baik aku diam dan jangan beritahu hal ini pada Lusia. Akan aku biarkan dia pindah ke kelasku. Dia pasti akan sangat terkejut begitu dia tahu. Tapi… bukankah seharusnya dia berada di kelas dua? Apa yang terjadi sampai-sampai dia harus mengulang? Ah, itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah merahasiakan ini dari Lusia, dan aku ingin tahu apakah dia berhasil pindah ke kelasku?"



Lusia berjalan menyusuri koridor menuju arah ruang kepala sekolah. Salah satu guru yang baru saja keluar dari ruangannya, tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mengira gadis itu tersesat.


"Hey, nak. Kau mau kemana? Ini bukan jalan yang tepat menuju ruang kelasmu," ucapnya.


"Maaf, pak. Saya tidak sedang mencari ruang kelas, saya hendak bertemu dengan kepala sekolah. Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan beliau."


"Apa? Kau tidak diperbolehkan untuk menemui kepala sekolah, beliau sedang sibuk. Lagipula untuk apa kau bertemu dengan beliau, kalau kau ingin berbicara yang penting, bicarakan dengan guru wali kelasmu. Kau dari kelas berapa?"


"Ini tidak bisa, pak. Saya benar-benar harus bertemu dengan kepala sekolah."


"Tidak bisa! Lebih baik sekarang kau kembali ke kelas, sebentar lagi waktunya masuk!" Suaranya menegas, Lusia tersentak dibuatnya.


"Tapi, pak… saya sungguh harus bertemu dengan beliau, apakah beliau sudah sampai?"


...***...