Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 659 - Salinan laporan



...***...


Namun semua rencananya itu gagal ketika kakak pertamanya justru malah mempercayakan Claire untuk menjadi penerusnya. Sekolah itu beralih ke tangan Claire yang kemudian di angkat sebagai kepala sekolah di sana dan memenangkan hasil persidangan atas gugatan yang dilayangkannya ke pengadilan.


"Kami pulang!" Joe dan Derek membuka pintu.


"Derek! Joe!" Lusia beranjak dari kursinya dan segera berlari menghampiri pintu masuk. Menemui Joe dan Derek yang baru saja pulang sekolah.


"Kalian sudah pulang?" Cato beranjak dari kursi dan menghampiri kedua putranya.


"Iya, pa.."


"Bagaimana sekolahnya?"


"Menyenangkan, kami belajar beberapa hal baru tadi."


"Benarkah?"


Derek menganggukkan kepalanya. Derek dan Joe bersekolah di sekolah yang sama, tapi tentunya tingkat kelas mereka berbeda. Tapi mereka selalu berangkat dan pulang bersama karena bus sekolah mereka selalu mengantar jemput hingga di depan rumah.


"Sekarang lebih baik kalian pergi ke kamar dulu dan ganti pakaian. Setelah itu kalian boleh bermain dengan Lusia."


"Baik!"


"Kami ganti baju dulu, ya?"


"Aku ikut!" Lusia mengikuti Joe dan Derek yang kini beranjak menghampiri tangga. Naik ke lantai dua dimana kamar mereka berada.



...*...


Suara dering ponsel genggam membuat atensinya beralih. Cato yang tengah duduk termangu di ruangannya seketika mengalihkan perhatiannya pada suara yang baru saja dia dengar. Ia meraih ponselnya dan mengangkat telpon masuk dari salah satu teman semasa kuliahnya sekaligus juga rekan yang sekarang sesekali bekerja dengannya.


"Halo?"


"Aku dengar kau sedang di London? Kapan kau kembali?" tanya Martin di seberang sana.


"Seperti yang kau tahu, kami punya mata dimana-mana. Omong-omong bagaimana kabarmu? Aku dengar proyek yang kau kerjakan bersama tim waktu itu telah selesai?"


"Iya, baru saja selesai beberapa hari lalu."


"Begitu rupanya. Lalu apakah kau tidak berniat untuk mendatangiku dan Miles? Kami benar-benar membutuhkan bantuanmu di sini."


"Aku sebenarnya berniat untuk menemui kalian berdua, tapi aku pikir mungkin saja kalian sibuk dan aku tidak ingin mengganggu. Lagipula aku ingin mengambil istirahat sebentar."


"Nanti saja. Kami sungguh membutuhkan bantuanmu di sini. Bisakah kau datang secepatnya?"


"Hari ini juga?"


"Lebih cepat lebih baik."


Cato terdiam. Pria itu melirik jam yang tergeletak di atas mejanya.


"Hari ini aku tidak bisa pergi, semua orang di rumah sedang pergi dan aku harus menjaga anak-anakku. Mungkin aku akan menyempatkan waktu besok, bagaimana?"


"Baiklah, kalau kau bisanya besok. Tapi janji datang, ya?"


"Kau tenang saja. Aku pasti akan datang."


"Kalau begitu sampai jumpa besok."


"Iya. Oh ya, bagaimana dengan proyek kalian? Sudah sampai mana?"


"Kami hanya butuh menyempurnakannya sedikit lagi. Maka dari itu aku dan Miles membutuhkan bantuanmu di sini. Kami butuh bantuanmu untuk menyempurnakan serum yang kami ciptakan agar bisa segera di uji coba."


"Bagaimana kalau kalian coba kirimkan dulu laporan sampelnya? Aku akan coba pelajari sudah sejauh mana, agar besok aku juga hanya tinggal mengecek apa yang mungkin bisa aku bantu."


"Ide bagus! Kalau begitu akan aku kirimkan salinan laporannya lewat email."


"Okay. Aku akan menunggu." Martin dan Cato terlibat beberapa percakapan penting sebelum akhirnya mereka memutuskan sambungan teleponnya dan Cato mulai mengecek isi dari laporan yang baru saja diterimanya.


...***...