
...***...
"Sayang sekali, sepertinya aku tidak akan bisa membawamu pergi denganku karena orang-orang itu mencarimu. Aku harap kita bisa bertemu lagi agar aku bisa mengambil lebih banyak energimu," gumamnya pelan.
Pria itu beranjak bangun dari tempatnya. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Rei seorang diri di sana.
Pria itu bergerak, sosoknya berubah menjadi asap dan lenyap bersama dengan dua sosok lain dengan penampilan menyeramkan.
...*...
"Lihat!" William tiba-tiba saja menunjuk ke arah udara. Elvina mendongak. Kepulan asap berwarna abu-abu dilihatnya menghiasi langit sore yang perlahan berubah oranye.
"Rei…" Elvina bergegas lari menuju asal asap tersebut. Dirinya sangat yakin kalau asap itu akan menuntunnya menuju tempat dimana Rei berada.
William berlari mengikutinya dari arah belakang, lalu tak lama mendahuluinya agar bisa secepatnya menemukan keberadaan Rei.
"Cari asal asap itu!" teriak Elvina begitu dirinya melintas melewatinya. William mengangguk pelan.
William menghentikan langkah kakinya begitu dirinya tiba di tempat dimana asap itu berasal. Ia menemukan daun-daun kering yang terbakar oleh api berwarna biru.
William mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan di sana. Di dekat pohon sana, ia dapat menemukan Rei yang terbaring.
"El! Aku menemukannya!" teriak William kencang. Tak lama, Elvina tiba dihadapannya dan bergegas menghampiri tempat dimana Rei terbaring tak sadarkan diri.
Elvina segera mengecek denyut nadi dan hembusan napasnya bergantian. William terdiam memandang Elvina yang berusaha memastikan.
"Bagaimana?" tanyanya tak lama kemudian.
"Dia hanya pingsan. Lebih baik kita bawa dia pulang," tutur Elvina seraya beranjak bangun dari tempatnya.
William bangun dan berusaha membantu Rei bangkit. Mereka bekerja sama untuk membawa Rei pulang.
...*...
Pria itu sejak tadi memperhatikan mereka berdua dari atas sana dengan di temani oleh dua sosok menyeramkan yang sejak tadi memegangi tubuh Joe dan dua anak buahnya yang sama-sama tak sadarkan diri.
Pria itu beralih fokus pada kedua sosok menyeramkan tersebut. "Kita bawa Joe dan anak buahnya kembali ke markas. Ada yang harus aku bicara dengan tuan."
Pria itu beranjak bangun, berubah menjadi asap dan hilang dalam satu gerakan.
Kedua sosok menyeramkan itu juga bangun dan menghilang bersama dengan Joe serta kedua anak buahnya yang ikut serta.
...*...
"Arghh!" Rei membuka kedua matanya secara spontan. Ia bangun dari tempat pembaringannya. Napasnya menderu dengan jantungnya memburu tak beraturan, keringat dingin mengucur membasahi sekujur tubuhnya, dan wajahnya tampak sangat pucat.
Rei menghela napasnya panjang begitu dirinya sadar dimana ia berada. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Mimpi itu lagi…" lirihnya. Sudah berulang kali dirinya terus saja memimpikan hal yang sama. Tentang ruangan dan tubuhnya yang terikat di atas meja operasi di ruangan aneh, seorang laki-laki tua dengan pakaian dokter, serta jarum suntik.
Mimpi itu terus datang secara berulang kali, dan terus menghantuinya selama ini.
Rei meringis kala rasa sakit kembali dirasakannya begitu mimpi itu menghampiri tidurnya.
Kenapa aku terus bermimpi hal yang sama? batinnya.
Ceklek!
Atensi Rei disita oleh suara kenop pintu yang terbuka. Ia menoleh ke arah datangnya suara, diambang pintu sana, ia melihat Elvina.
...***...