
...***...
Semua orang langsung beralih ke arah datangnya suara, dan mereka membelalakkan mata saat sadar apa yang terjadi di sana. "Rei!"
Elvina dan William seketika menangis menyadari apa yang terjadi. Begitu juga dengan Luna, Aland dan Amanda. Mereka sungguh syok dengan apa yang baru saja terjadi. Semua ini sungguh terjadi diluar dari perkiraan mereka.
Rasa cemas langsung menghampiri mereka. Elvina dan William tanpa pikir panjang berusaha untuk berlari kembali ke laboratorium dengan sisa tenaga mereka. Luna berusaha untuk mengejar, namun para penjaga lebih dulu menghadang mereka dan berusaha untuk menangkap mereka. Pertarungan kembali terjadi. Membuat mereka mau tidak mau harus terus bertahan sambil mencoba untuk bisa lolos dari sana.
"Am, kita juga harus ke sana!" ujar Aland dengan resah. Matanya berkaca-kaca, dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di sana dengan Lucy. Di tengah kepanikannya itu, Amanda sama sekali tidak menjawab kalimatnya.
Aland yang panik dan hampir berlari mendadak berhenti saat sadar Amanda sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Lelaki itu menoleh ke arah juniornya. Namun begitu berbalik, dia terkejut dengan kondisi Amanda yang kini tengah membungkuk dengan tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pipinya.
"Am! Apa yang terjadi? Kau kenapa?" Aland menghampiri perempuan itu dengan panik. Alih-alih menjawab, Amanda hanya bisa diam dengan tubuh yang semakin gemetar. Napas perempuan itu juga jadi sama sekali tidak beraturan.
Aland berulang kali mencoba menyadarkannya. Namun usahanya sama sekali tak berhasil. Amanda seolah telah pergi ke dimensi lain, dan hanya raganya yang ada di sana.
Aland terdiam memandangi wanita itu. Entah kenapa melihatnya dalam kondisi seperti ini membuat Aland teringat akan Lucy yang juga selalu bereaksi sama setiap kali ada ledakan. Namun Lucy bereaksi begitu bukan tanpa alasan. Wanita itu memiliki trauma masa lalu. Dimana dulu Elena mati akibat ledakan bom yang terpasang di tubuhnya. Hal itu menyebabkan Lucy mengalami trauma yang tidak pernah bisa lepas darinya. Sedangkan Amanda, Aland tidak tahu kenapa wanita itu bereaksi sama. Yang pasti melihatnya bereaksi seperti ini membuat Aland cemas bercampur bingung.
Ini adalah pertama kalinya Aland melihat sosok Amanda yang dikenalnya periang dalam kondisi seperti ini.
...*...
"Permohonan terakhirku... Lupakanlah aku..."
Kalimat itu mendadak berdengung di kepalanya. Berbagai adegan tentang kejadian satu tahun silam mendadak bermunculan kembali ke permukaan memorinya. Tentang bom, suara lirih di balik pintu, tangisan, dan kobaran api. Semuanya seolah kembali terekam dalam ingatannya.
Jantungnya langsung berpacu dengan begitu cepat, tubuhnya gemetar, dan air mata sama sekali tidak bisa dia bendung. Akibat ledakan yang baru saja terjadi, Lucy seolah kembali diingatkan akan kejadian satu tahun silam. Kejadian yang dimana menewaskan sahabatnya, Elena, yang mati di tangan mantan rekannya yang berkhianat.
"E-Elena..." Lucy bergumam lirih. Rei menoleh ke arah Lucy yang kini berjongkok tak jauh dari posisinya. Dia baru saja akan bicara dengan Louis, tapi akibat Lucy yang mendadak bersikap aneh. Rei langsung memfokuskan perhatiannya pada wanita itu. Dia menghampirinya dengan cemas.
"Liana? Liana, apa yang terjadi?!" Rei menatap Lucy. Tapi wanita itu sama sekali tidak merespon.
...***...