
...***...
Brukk!
Semua orang sorotan menoleh ke arah datangnya suara.
"Will!" teriak Elvina dengan wajah panik saat mendapati adiknya tiba-tiba tersungkur tak sadarkan diri.
Mereka menoleh ke arah datangnya suara. Baru saja mereka berbalik, Wyman langsung menghadiahi mereka dengan sebuah serangan tanpa ampun.
Bugh!
Dalam satu kali pukulan, mereka terhempas jauh dari posisi semula.
"Argh…" Lucy dan Aland meringis kesakitan begitu tubuh mereka bersentuhan kasar dengan lantai yang mereka pijak.
"Tetap tutupi hidung kalian!" Rei mengingatkan.
"Kau pikir kau bisa melarikan diri dariku?" Wyman menarik sebelah sudut bibirnya membentuk seringai. "Tidak semudah itu."
Lucy berusaha bangkit dengan menutup hidungnya.
Sial, dia menyerang tanpa aba-aba, batinnya. Ia menatap tajam pada pria yang baru saja membuat mereka terjatuh dalam satu kali hempasan tangannya.
"Sekarang saatnya kau ikut." Wyman menggerakkan tangannya, menyerang Lucy dengan kabut tidurnya hingga pandangannya tertutupi.
Aku tidak bisa melihat apa-apa. Lucy berusaha mencari keberadaan Wyman dengan teman-temannya yang lain.
Wyman bergerak cepat dengan kemampuan terbangnya, melaju menuju arah Lucy untuk menangkapnya.
Kena kau! pikirnya sambil tersenyum.
Dorr! Dorr!
Aland menembak ke arah sekitar tempat Wyman berdiri tadi. Berharap salah satu serangannya mengenai lelaki itu.
Sratt…
Salah satu pelurunya berhasil menggores wajah Wyman. Hal itu membuat dia spontan berhenti dan memegangi wajahnya yang mulai mengeluarkan darah.
"Argh…" ringisnya pelan. Ia mengusap wajahnya yang berdarah. Menatap darah yang kini menetes di jari tangannya.
Ternyata kau benar-benar ingin aku habisi?!
Wyman bergerak menuju arah Aland dengan kecepatan penuh. Pria yang sedang dihampirinya itu masih terus menembaknya berulang kali dengan pistol yang ada dalam genggamannya.
Beberapa serangan Aland berhasil mengenai beberapa bagian tubuh Wyman hingga membuat darah pria itu kembali mengucur membasahi tubuhnya.
Wyman meringis dan sempat terdiam beberapa kali sebelum akhirnya tiba di dekat Aland dan mencekiknya begitu tiba di sana.
"Akh—" Aland tersentak kaget saat Wyman mendadak muncul dan mencekiknya.
"Kau sudah berurusan dengan orang yang salah," gumamnya. Ia mengencangkan cekikannya sampai membuat Aland tak bisa bernapas sama sekali.
Aku tidak bisa bernapas. Kekuatan dia begitu kuat. Aland memberontak. Mencengkram pergelangan tangan Wyman dengan sekuat tenaga. Berharap pria itu melepaskan cekikannya.
Wyman tak menghiraukan Aland yang terus meronta. Ia mencekiknya tanpa ampun.
Aku harus mencari ide, batin Aland yang kemudian mengangkat tangan yang sejak tadi menggenggam pistol di tangannya.
Aland mengarahkan pistol itu ke arah kepala Wyman hingga membuat fokus pria itu beralih pada benda dalam genggamannya.
Kau ingin membunuhku? Tidak semudah itu. Wyman mencengkram pergelangan tangan Aland yang lain.
"Akh—" Aland kesakitan. Wyman mencengkram tangannya sama eratnya dengan cekikannya.
Klang!
Pistol di tangannya terjatuh di lantai. Aland mulai kehilangan kesadarannya. Apalagi saat sebagian besar kabut tidur itu terhisap oleh hidungnya.
Aku tidak bisa bernapas. Aland berusaha mempertahankan kesadarannya yang tersisa.
Ditatapnya Wyman yang kini mencekiknya begitu kuat. Pria itu memancarkan tatapan yang terlihat seperti begitu menikmati momen-momen ketika dirinya mulai kehabisan tenaga untuk melawan.
Brukk!
Satu persatu tangannya mulai tidak dapat dikontrol. Aland semakin merasa lemas, dan ia mulai tidak bisa melihat dengan jelas.
Bugh!
Tiba-tiba sebuah serangan melayang.
...***...