Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 288 - Ron



...***...


Brakk!


Pintu ruang laboratorium yang sempat sulit mereka buka akhirnya berhasil mereka dobrak.


Ron melangkah masuk dan berharap pria itu ada di dalam sana, namun di luar dugaan tak ada siapapun di dalam sana.


Sebagai gantinya, Ron justru di kejutkan dengan keberadaan benda-benda laboratorium yang terbuat dari kaca dan pintu rahasia yang terbuka.


"Sial! Dia lari, cepat tangkap dia! Aku yakin Joe atau Derek membantunya melarikan diri!" teriak Ron. Anak buahnya segera bergerak mencari keberadaan pria itu yang hilang bersama Derek.


Kini hanya tersisa Ron di dalam ruangan tersebut. Ia menghampiri sebuah papan berisi data-data penelitian yang di buat oleh Derek.


"Ini tidak beres. Dia berusaha untuk mencari tahu serum Evolgesysv-03 milik profesor. Aku harus menghubungi tuan soal ini." Pria itu mengotak-atik telecosysnya dalam genggamannya dan segera menghubungi pria yang menjadi tuannya.



...*...


Pria itu mendadak menghentikan langkahnya. Derek spontan ikut berhenti dan menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Apa yang kau lakukan? Jangan berhenti kalau tidak, kita akan tertangkap!" ujar Derek sedikit berteriak karena suaranya terendam suara hujan.


"Terima kasih karena sudah membantuku, tapi aku tidak bisa ikut denganmu. Aku masih belum percaya denganmu," balas pria itu.


"Apa maksudmu? Jadi apa yang ingin kau lakukan?"


"Kita harus berpisah di sini."


"Kau gila? Akan terlalu berbahaya untukmu jika kau melarikan diri sendirian!"


"Tapi aku tidak bisa mengambil resiko. Bisa saja kau berkomplot dengan mereka dan berpura-pura baik denganku!"


"Aku sungguh ingin membantumu!"


"Aku harus pergi. Maaf!" Pria itu berbalik dan berlari menuju arah lain.


"Kalau itu memang keputusanmu, aku harap kau tetap bebas! Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan!" teriak Derek membuat lelaki itu berhenti.


Derek segera berlari meninggalkannya seorang diri. Pria itu termangu sejenak menatap kepergian Derek.


Tak lama, pria itu melanjutkan langkahnya saat mendengar suara teriakan dari beberapa orang lelaki di belakangnya.


Derek bergegas berlari. Ia mengotak-atik telecosysnya sementara langkahnya terus bergerak.


Aku harus menghubungi Nils, pikir Derek yang terus melangkah membelah hujan.


...*...


"Hujannya tak kunjung reda, apakah kalian yakin akan pulang sekarang?" Wendy berujar.


Lusia dan keluarganya berencana untuk langsung pulang karena mengingat besok Lusia masih harus pergi ke sekolah.


"Ya. Tidak perlu pikirkan tentang hujan, lagipula kami menggunakan mobil." Meredith, ibunya Lusia berujar.


"Kalau begitu hati-hati di jalan."


"Sampai jumpa lagi, kalau begitu."


Meredith melangkah memasuki mobil bersama dengan Lusia dan anggota keluarganya yang lain, termasuk Claire dan suaminya.


Mereka melaju meninggalkan rumah kediaman kerabatnya yang menjadi tempat berkumpulnya acara tersebut.


"Sangat di sayangkan kita hanya bisa berkumpul sebentar." Wendy berujar yang diangguki setuju oleh suaminya.


"Maaf, semuanya tapi sepertinya aku juga harus pergi." Cato melangkah keluar dari rumah dengan ponsel digenggamnya.


"Om kenapa buru-buru?" Meredith menatap lelaki yang menjadi adik mendiang ayahnya itu.


"Ada urusan mendesak yang terjadi. Om harus segera pergi untuk mengurusnya," jelasnya.


"Om angkat langsung pergi ke London?"


"Iya, mungkin om akan mengambil penerbangan malam agar bisa secepatnya tiba di sana. Karena masalahnya benar-benar mendesak."


"Sangat di sayangkan, padahal ini adalah kali pertama om datang kemari."


...***...