Adventure In The Dark

Adventure In The Dark
Tragedy 262 - Kencan?



...***...


"El?" William menatap kakaknya dari atas sampai bawah. Wanita itu mengenakan atasan baju turtle neck berwarna hitam yang berbalutkan rompi putih tanpa lengan dengan rok pendek di atas lutut bercorak kotak-kotak berwarna merah muda berpadu dengan garis hitam putih.


Kaki jenjangnya mengenakan sepatu boot heels di bawah lutut yang warnanya senada dengan atasannya. Rambut panjangnya tergerai seperti biasanya hanya ditambahkan sedikit hiasan kecil berupa jepitan rambut sederhana.


Leon terdiam memandangi Elvina yang baru saja keluar, ia nyaris tak berkedip menatap wanita itu.


"A… aku sudah selesai bersiap, ayo pergi." Elvina mengalihkan pandangannya, tatapan Leon membuatnya gugup.


"Ayo," gumam Leon pelan sembari mengangguk. Ia kehabisan kata-kata melihat penampilan Elvina yang benar-benar berbeda dari biasanya. Cantik? Tentu saja. Bahkan bagi Leon ia lebih mempesona dari biasanya.


"Baiklah, kami pergi dulu. Jaga rumah baik-baik dan jangan pergi kemana-mana tanpa mengunci rumah, okay?" Elvina mengingatkan.


"Aku tidak akan kemana-mana, lagipula aku dan Rei sudah memiliki janji untuk bermain game bersama."


"Baiklah. Oh ya, mungkin hari ini aku akan pulang agak sedikit terlambat. Kalau kau membutuhkan sesuatu pesan saja lewat online."


"Iya, jangan cemaskan aku. Kalian bersenang-senang. Aku doakan kencan kalian lancar." William tersenyum jahil pada kakaknya. Elvina melotot.


"A… apa kau bilang? K… kencan? Aku dan Leon hanya akan pergi mengurus beberapa pekerjaan kantor," elaknya. Memang sejak awal Elvina beralasan kalau mereka akan pergi mengurus pekerjaan kantor.



"Kau tidak perlu berbohong, lagipula kak Leon sudah memberitahuku kalau kalian akan pergi kencan."


"Apa?" Elvina mendelik ke arah lelaki yang hanya terkekeh di sampingnya itu.


"Kenapa kau bicara seperti itu?" ujar Elvina.


"Memangnya kenapa? Bukankah itu memang benar kalau kita akan pergi kencan? Lagipun William bukan anak kecil, jadi tidak apa-apa kalau kita memberitahunya," balas Leon.


Elvina menghela napas pelan sembari menggelengkan kepalanya. Rusak sudah usahanya menyembunyikan hal ini dari adiknya.


Elvina berbalik tanpa berkata apa-apa, ia berjalan menghampiri pintu depan.


"Hati-hati di jalan, dan tolong jaga kakakku dengan baik!"


"Ya, pasti!" Leon berbalik berjalan mengikuti Elvina yang kini sudah berada di pintu depan.


Tiba di pintu keluar, Elvina dan Leon di kejutkan dengan Rei yang baru saja tiba dan nyaris membuka pintu sebelum langkahnya di dahului oleh Elvina.


"Rei." Elvina terkejut.


"Kau membuatku terkejut!" Rei mengusap dadanya.


"Aku tidak tahu kalau kau sudah tiba."


"Baru saja. Kau sudah akan pergi?"


"Ya." Elvina mengangguk pelan. Tak lama Leon ikut keluar dengannya.


"Rei?" Lelaki itu menatap Rei.


"Hai."


"Berhubung kau sudah tiba di sini, aku dan Elvina tak perlu cemas lagi tentang William. Tolong jaga dia, ya?" Leon tersenyum simpul.


"William itu adikku! Kau bersikap seolah-olah dia anakmu," gerutu Elvina.


"Tapi sebentar lagi dia juga akan menjadi adikku, dia akan menjadi keluargaku. Jadi apa salahnya?" Leon nyengir kuda.


"Kalian tenang saja. Pergilah dan nikmati hari yang indah ini," sahut Rei.


"Aku percaya padamu Rei." Elvina menepuk pundak sepupunya itu lalu melewatinya.


Dibelakangnya, Leon berjalan mengekor mengejar Elvina dan membukakan pintu mobil lebih dulu untuknya. Elvina duduk disana.


...***...