
...***...
Rei menyeringai. Lelaki berjubah biru itu memejamkan kedua matanya lantas menggunakan kemampuannya. Memecah tubuhnya menjadi beberapa ribu orang. Apa yang dilakukannya berhasil membuat Elvina dan yang lainnya terkejut. Termasuk Martin dan Lusia di sana.
"Waktunya bersenang-senang!" Marko tersenyum. Lelaki itu lantas berlari ke arah para penjaga yang berusaha untuk menyerang mereka. Di belakangnya, Vicenzo, dan Taz berlari melindungi Rei.
Marko menghempaskan kedua tangannya sambil terus berlari. Dalam satu kali hempasan, pada penjaga yang menghalangi jalan mereka seketika berterbangan karena kekuatan anginnya. Di belakangnya, Taz dan Vicenzo menggunakan kekuatan mereka untuk mendampingi Rei.
Taz membakar para penjaga dengan kekuatan apinya. Sementara Vicenzo menggunakan kekuatan airnya untuk menyapu para penjaga.
Rei terus berlari di belakang mereka.
Martin di depan sana membelalakkan matanya. Dia bergegas meminta Lusia untuk menggunakan kekuatannya memanggil bantuan lain. Lusia dengan kekuatannya kembali mengendalikan para penjaga dan membawa mereka untuk datang ke sana. Semakin lama, pada penjaga semakin banyak berdatangan. Namun kali ini Rei tidak merasa cemas karena dirinya yang lain membantunya.
Semakin lama, Rei semakin dekat ke arah tempat dimana Martin dan Lusia berada. Sementara itu, Lucy menyadari rencana yang tadi sempat dibicarakan oleh Rei dan yang lainnya.
Lucy meninju penjaga yang sejak tadi berusaha menyerangnya. Wanita itu menendang lelaki itu lalu melemparkan tubuhnya. Lucy bergegas berlari mengejar Rei dari arah belakang. Dia tidak boleh diam saja, terlebih melihat Martin masih berdiri dengan tenangnya di sana.
Aland dan Amanda yang menyadari wanita itu mencoba mengikuti Rei, lantas bergegas membantunya. Lucy terus melangkah sampai akhirnya berhasil mengikuti Rei dari arah belakang.
Marko menghentakkan tangannya. Dalam satu kali hempasan, tubuh Lusia dan Martin tanpa aba-aba langsung terhempas hingga menghantam dinding tebing. Rei yang melihat itu langsung menggunakan kekuatannya, mengendalikan tanaman di sekeliling untuk mengikat Lusia dan Martin. Lelaki itu terus berlari menghampiri mereka dengan Lucy di belakangnya. Sementara, Taz, Marko dan Vicenzo kini beralih mencoba melindungi mereka.
Lucy meninju salah satu penjaga. Menarik tubuhnya lalu menjadikannya sebagai pijakan. Wanita itu melompat dan menggunakan penjaga lain sebagai pijakan lain sebelum akhirnya melontarkan diri ke arah dimana Martin berada.
Di sisi lain, Martin mencoba untuk membebaskan diri. Tepat ketika Lucy hampir mengenai dirinya, Lusia langsung bertindak menggunakan kekuatannya untuk membantu Martin lolos.
Bugh!
Alih-alih meninju wajahnya, Lucy malah jadi meninju tanah. Martin tersungkur jatuh. Lelaki itu meringis menahan sakit. Namun dia bisa merasa lebih lega karena dia berhasil meloloskan diri dari Lucy.
Lucy mendarat dengan kedua kakinya begitu dia menyadari serangannya melesat. Wanita itu menodongkan thorny bites dalam genggamannya ke arah Martin. "Jangan bergerak!"
Martin yang menyadari hal itu spontan membatu di tempatnya. Dia terdiam sambil bangkit secara perlahan. "Sekarang kau sudah tidak akan bisa melawan lagi. Kau akan berakhir sampai di sini!"
Lucy menatap lelaki itu tajam. Alih-alih merasa takut, Martin justru malah tersenyum sambil memandanginya. "Kau pikir aku akan kalah begitu saja? Aku akan menang, Lucy!"
...***...